Pandemi Dan Hilangnya Peran Kantin Sekolah.

PASARKAYU
IFMAC & WOODMAC 2023

Tangerang SURYAPOS – Sophie, siswi kelas 11 jurusan Farmasi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan Bhakti Insan Persada, Tangerang, enggan beranjak dari tempat duduk diruang kelasnya, kendati bel sekolah telah berdering yang mengisyaratkan, telah masuk waktu istirahat belajar di sekolah, Sophie lebih memilih untuk bercengkrama di kelas bersama rekannya sambil menikmati ransum yang mereka bawa dari rumah.

Sekilas tidak ada yang salah dari aktivitas mereka, namun jika kita telisik ada kegalauan diantara mereka atas situasi tersebut, Sophie dan tentunya lebih banyak lagi pelajar sekolah yang duduk di kelas 11, sangat menyadari bahwa mereka adalah bagian generasi yang tidak dapat menikmati masa-masa sekolah yang umumnya dirasakan oleh generasi sebelumnya, Sophie masuk di sekolah menengah dalam situasi dunia sedang mengalami masa-masa pandemi covid 19, Indonesia tak luput terdampak, baik dari sisi politik, ekonomi dan sosial yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, bahkan dunia pendidikan adalah salah satu yang harus beradaptasi dengan pandemi ini.

Semarang Global Printing Expo

Pandemi ini memaksa Sophie dan jutaan pelajar lainnya untuk mengikuti program belajar online, sebagaimana keputusan Mendikbudristek, Nadiem A Makarim dengan segala pro dan kontranya, program tersebut terus berlanjut, hingga pada awal September 2021 lalu, Pemerintah melalui pernyataan Mendikbudristek mulai membuka akses bagi sekolah untuk dapat melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), tentu dengan mengikuti aturan protokoler yang kerap dikampanyekan oleh Pemerintah dan unsur terkait, dengan segala keterbatasannya, insan pendidikan menyambut antusias pengumuman Pemerintah tersebut.

Walau sudah mulai berjalan, masa pembelajaran tatap muka ini, faktanya tidak mampu mengembalikan situasi sekolah dan belajar siswa menjadi normal, semua harus mengikuti protokoler, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan adalah syarat dasar yang mengikat segala aktivitas masyarakat, termasuk sekolah.

Dalam lingkup sekolah, salah satu elemen sekolah yang harus terpinggirkan adalah peran kantin sekolah, umumnya kantin sekolah belum beroperasi, para pedagang kantin sekolah masih enggan membuka kantinnya, walau proses Pembelajaran Tatap Muka sudah mulai dijalankan di banyak sekolah, mereka masih gamang dengan situasi yang tidak menentu ini, berbagai kekhawatiran menghinggapi pemikiran pedagang kantin, mulai dari durasi belajar siswa yang pendek, hingga aturan protokoler yang tidak diperkenankannya kerumunan, pedagang kantin khawatir justru merugi, jika krmbali membuka kantinnya dalam situasi ini.

Abdullah Dado, Pemerhati Sosial dan staf pengajar di SMK Kesehatan Bhakti Insan Persada (BIP) Tangerang.

Kondisi tersebut menjadi ironi bagi sekolah, kantin sekolah sejatinya adalah merupakan elemen pendukung bagi dinamika sekolah, kantin sekolah secara empiris mampu menjadi instrumen sekolah yang berperan tidak hanya sebagai tempat makan dan minum saja, tetapi juga berperan antara lain :

  1. Tempat untuk beradaptasi dan bersosialisasi antara siswa dan insan sekolah lainnya.
  2. Tempat berekspresi untuk melepas penat.
  3. Tempat diskusi santai siswa.
  4. Sarana pengamatan dan belajar siswa tentang dunia kewirausahaan, serta
  5. Sarana belajar siswa untuk menerapkan standar kebersihan pangan.

Melihat dari fungsi dan peran kantin sekolah tersebut diatas, sudah seyogyanya instansi terkait, baik Pemerintah maupun institusi sekolah memberikan solusi untuk eksistensi kantin sekolah, Pemerintah harus menghitung secara cermat dampak yang ditimbulkan dari tidak beroperasinya kantin sekolah, baik dari sisi psikologi sosial dan terlebih dari sisi ekonomi, hal ini karena para pedagang kantin sekolah tentu turut menjadi penggerak perekonomian masyarakat, Pemerintah melalui instansi terkait harus turun ke lapangan untuk memberikan edukasi kepada pengelola dan pedagang kantin, dan dari pihak pengelola kantin sekolah diharapkan dapat krmbali merangkul para pedagang kantin sekolah, agar mereka mau krmbali eksis memberikan pelayanan di sekolah, pengelola kantin sekolah harus fleksibel dan dapat memberikan keringanan khususnya menyangkut biaya sewa ruang kantin.

Harapannya jika gagasan tersebut terwujud, secara perlahan iklim dinamika sekolah dapat berangsur membaik, hal ini tentu dapat mengembalikan ruh dan eksistensi sekolah secara utuh, kantin sekolah memang bukan hal yang utama didalam lingkup sekolah, tetapi keberadaan kantin sekolah setidaknya tidak menghilangkan hak Sophie dan siswa lainnya di Indonesia, untuk dapat merasakan hangatnya tempe goreng yang baru diangkat kang Asep, manisnya susu dalgona racikan bu Neneng dan berbagai kudapan ringan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semarang Global Printing Expo