Yogyakarta(28/12/2025) – Sampah plastik merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar. Kita tahu, plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai secara alami dan mencemari tanah serta laut. Namun kini, inovasi daur ulang memungkinkan plastik menjadi bahan bangunan seperti ecobrick (bata ramah lingkungan) dan paving block untuk jalan, trotoar, atau area publik lainnya
Ecobrick adalah botol plastik yang diisi rapat dengan sampah plastik bersih dan kering sehingga menjadi “bata” padat yang dapat dipakai untuk konstruksi ringan, furnitur, atau elemen bangunan sederhana.
Paving Block dari Plastik
Paving block plastik adalah material pengganti batu paving konvensional dengan mencampurkan sampah plastik — terkadang bersama pasir dan oli bekas — lalu dipanaskan dan dicetak sesuai bentuk. Produk ini dapat dipakai di permukaan jalan, trotoar, atau area lain. Di India, penggunaan sampah plastik yang dicampur dengan aspal menghasilkan produk jalan raya yang kualitasnya lebih baik dan tahan lama.
Proses Produksi
Berikut diagram sederhana alur produksi ecobrick dan paving block dari plastik:
- Kumpulkan Sampah Plastik
↓ - Pilah & Bersihkan
↓
3A. → Untuk Ecobrick:
Masukkan plastik ke dalam botol → Padatkan rapat
↓
Ecobrick siap dipakai
3B. → Untuk Paving Block:
Cacah plastik → Campur pasir & oli → Panaskan/leleh
↓
Masukkan ke cetakan → Cetak & dinginkan
↓
Paving block siap pakai
Di Yogyakarta, kesadaran untuk mengolah sampah plastik menjadi produk yang berguna sudah mulai dilakukan sejak 2016. Sejumlah warga yang tergabung dalam komunitas Bijak Sampah membuat bahan bangunan berbahan baku sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang dan pasir, tanpa menggunakan sistem pembakaran. Hal itu mulai diterapkan di Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.
Salah satu penemu teknologi pemanfaatan residu plastik tanpa pembakaran bernama Agung Wisda menjelaskan awal mula munculnya ide tersebut dari keprihatinan akan banyaknya sampah residu. Dari situ Agung dan rekan-rekannya melakukan riset untuk membuat mesin pengolahan sampah plastik tanpa menggunakan sistem pembakaran.
“Riset sejak 2016, dapat formulanya lalu kami ajukan ke Ditjen HAKI untuk hak patennya tahun 2019. Jadi bisa dibilang ini (alat pembuat bahan bangunan dari plastik dan pasir tanpa sistem pembakaran) pertama di Indonesia,” katanya saat ditemui di Pleret.
Alat buatannya bersama Prof Surisyono dan Tri Setyawati ini terbilang sederhana, yakni hanya terdiri dari mesin pencacah sampah plastik, mesin mixer atau pencampur bertenaga listrik dan alat pres manual. Untuk produksinya, Agung menyebut bisa berupa beberapa benda yang berhubungan dengan pembangunan.
“Tidak hanya conblock (concrete block), pemecah gelombang, separator pembatas jalan hingga bata interlock bisa kami buat,” ujarnya.
Pembuatan Ecobrick Bank Sampah Peduli Sampah RT 53 RW 11 Kelurahan Wirobrajan. Pengelolaan sampah atau limbah plastik disebut-sebut menjadi salah satu permasalahan yang besar di seluruh penjuru dunia. Plastik memiliki sifat yang tak dapat terurai, sehingga seringkali limbah ini mencemari lingkungan bahkan mengancam setiap elemen yang berada di bumi.

Meskipun kini produksi plastik sudah diminimalkan, tetapi tetap saja limbah tersebut masih tergolong mengancam untuk kelangsungan kehidupan. Dari permasalahan tersebut, telah ada solusi alternatif yang bisa digunakan untuk mengelolah limbah plastik agar tidak terlalu menumpuk.
Cara alternatif tersebut seperti daur ulang sampah plastik menjadi berbagai kerajinan tangan, contohnya tas, tempat pensil, hiasan meja, dan lain sebagainya. Dalam era modern ini, kini telah bertambah lagi solusi lain yakni dengan mengubah limbah-limbah plastik tersebut menjadi ecobrick.
Ecobrick merupakan sebuah inovasi sederhana yang dikembangkan sebagai upaya pengolahan limbah plastik. Kata ecobrick terdiri dari 2 kata yakni eco dan brick, yang secara sederhana diartikan sebagai bata ramah lingkungan.

Bank Sampah Peduli Sampah RT 53 RW 11 Kelurahan Wirobrajan membuat ecobrick dalam rangka HUT Kota Yogyakarta, yang dilaksanakan oleh seluruh warga Kelurahan Wirobrajan
Sementara di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tamanmartani diproyeksikan mampu mengolah 80 ton sampah per hari. Sampah yang masuk TPST Tamanmartani nantinya akan diolah menjadi kompos dan conblock plastik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Epiphana Kristiyani menerangkan TPST Tamanmartani nantinya akan dilengkapi sejumlah fasilitas pengelolaan sampah. Dijelaskan Epi, TPST Tamanmartani akan dilengkapi pos timbang. Pos ini akan menimbang volume sampah yang masuk ke TPST setiap harinya.
Di fasilitas tempat pilah, sampah akan disortir sesuai jenisnya. Selain itu TPST Tamanmartani juga akan dilengkapi dengan incinerator yang digunakan untuk membakar limbah. Tak hanya itu, mesin komposter juga disiapkan dalam rancangan TPST Tamanmartani. Alat ini akan mengelola sampah organik menjadi kompos. “Karena nanti yang [sampah] organik nanti akan dibuat kompos,” tambahnya.
Di sisi lain, TPST Tamanmartani disebutkan Epi juga akan dilengkapi tempat pengepresan dan tempat penyimpanan kompos. Tak lupa, instalasi pengolah limbah juga akan dipasang di TPST Tamanmartani. “Instalasi pengolah limbah, karena nanti dipres, organik itu kan pasti ada lindinya [kimia] ya,” terangnya.
Jika sampah organik akan diproses menjadi kompos, sampah-sampah anorganik akan diolah menjadi conblock. Epi menjelaskan sampah-sampah anorganik yang masuk TPST Tamanmartani nantinya akan dipres menjadi conblock bermaterikan plastik.
“Jadi begitu datang nanti dipilah, kalau sudah terpilah nanti yang organik dibuat kompos. Kemudian yang anorganik akan dibuat conblock. Sampai kalau masih ada residu dibakar, sehingga nanti harapannya TPST itu zero waste,” tegasnya.
Rencananya kompos yang dihasilkan akan digunakan DLH untuk perawatan taman-taman milik pemerintah. Meski tak menutup kemungkinan bila berlebih bisa dikerjasamakan dengan instansi lain seperti Dinas Pertanian.
Diproyeksikan TPST Tamanmartani dapat mengelola 80 ton sampah setiap harinya. Ditargetkan pada tahun 2023 ini TPST Tamanmartani mulai dapat beroperasi. “Paling jelek nanti akhir Desember, nanti akhir tahun atau awal tahun 2024 mudah-mudahan kita sudah bisa mulai operasi,” tegasnya.

Pembangunan TPST Tamanmartani melibatkan dua instansi, yakni DPUPKP Sleman dan DLH Sleman. Dua instansi ini memiliki peran masing-masing dalam pembangunan TPST. Pada tahap awal ini pembangunan akan dilaksanakan oleh DPUPKP Sleman yang bertugas melakukan perataan tanah, pembangunan pagar dan akses jalan keluar masuk TPST Tamanmartani.
Kepala DPUPKP Sleman, Taufiq Wahyudi menerangkan pembangunan TPST Tamanmartani telah dimulai. Pemenang lelang telah di kontrak dan berikutnya memasuki tahap pembangunan. “TPST Tamanmartani itu kan sudah. Baru kita kontrak itu, sudah jalan,” terangnya.

Dalam pembangunannya, DPUPKP Sleman bakal fokus pada pembangunan fisik seperti akses jalan dan tembok. Sementara pengadaan peralatan pengolahan sampah nantinya akan berada di ranah DLH Sleman.
“Kalau kita cuma masalah fisiknya saja, jadi akses masuk ke jalan, kemudian tembok keliling nanti yang masalah peralatan ada di DLH,” tegasnya.
Apapun strategi dan teknis pelaksanaanya, sudah sepatutnya kita peduli dengan masalah sampah, terutama sampah plastik. Sulitnya memusnahkan sampah plastik membuat kita harus berpikir secara economic circular.
Kita harus bisa mendaur ulang dan mereproduksi kembali menjadi barang yang berguna. Demi masa masa depan dan lingkungan hidup kita.
SON
Catatan : informasi lanjutan untuk Eco Brick bisa di cek http://www.Ecobricks.org


















