Yogyakarta(12/05/2026). Hantavirus kembali menarik perhatian setelah kasus kematian yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh tikus dalam kelompok kasus di kapal pesiar MV Hondius. Walaupun situasi ini belum menunjukkan indikasi akan adanya pandemi baru, kemunculan kasus tersebut mengingatkan kita bahwa Hantavirus tetap harus diwaspadai, termasuk di Indonesia.

Menanggapi kondisi ini, Pusat Kedokteran Tropis (PKT) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan talkshow daring bertajuk “Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia” pada hari Selasa (12/5).
Salah satu pembicara, dr. Riris Andono Ahmad, MPH. , PhD menjelaskan bahwa insiden di kapal MV Hondius bermula dari laporan mengenai infeksi Hantavirus pada salah satu penumpang yang kemudian menyebar dalam kelompok terbatas di kapal. Ia menambahkan bahwa perhatian dunia ditarik oleh insiden ini yang disebabkan oleh strain Andes virus, jenis Hantavirus satu-satunya yang diketahui bisa menular antar manusia dengan cara terbatas melalui kontak yang sangat dekat dan berkepanjangan.
“Penting untuk dipahami bahwa peristiwa global ini bukan merupakan awal dari pandemi baru dan risiko penyebarannya masih dalam kategori rendah,” ungkapnya. Namun, dia mengingatkan bahwa penting bagi masyarakat untuk tetap waspada karena penyimpan virus ini, yang merupakan hewan pengerat seperti tikus, banyak ditemukan di Indonesia.

Pada sesi berikutnya, dr. Alindina Anjani, Sp. PD membahas dari segi klinis mengenai Hantavirus, mulai dari gejala, cara diagnosis, hingga penanganan penyakit tersebut. Ia menjelaskan bahwa Hantavirus seringkali menimbulkan gejala awal yang tidak spesifik seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan kelelahan. Gejala ini seringkali mirip dengan penyakit infeksi lain yang banyak ditemukan di Indonesia, seperti demam berdarah, leptospirosis, atau tifoid. “Karena gejala ini mirip dengan banyak penyakit infeksi lainnya, riwayat kontak lingkungan dan keberadaan hewan pengerat seperti tikus dan mencit menjadi hal penting yang harus diperhatikan dalam proses diagnosis,” terangnya.
Ia juga menekankan betapa pentingnya upaya pencegahan melalui pengendalian hewan pengerat dan menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kemungkinan kontak dengan tikus, memperbaiki sanitasi, menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area yang berisiko terkontaminasi, serta segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala disertai riwayat kontak dengan lingkungan berisiko.
Berkenaan dengan penanganan pasien Hantavirus, dr. Alindina menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada terapi spesifik sehingga perawatan dilakukan secara suportif berdasarkan kondisi klinis pasien. Dia juga menegaskan bahwa pasien bisa dirawat seperti kasus infeksi lainnya tanpa memerlukan isolasi khusus terhadap penularan udara, karena jenis Hantavirus yang umum di Indonesia tidak menular antar manusia.
Dalam talkshow yang dihadiri lebih dari 400 peserta ini, diungkapkan bahwa Hantavirus dapat menyebabkan berbagai tingkat keparahan, dari tanpa gejala, keluhan ringan seperti demam, hingga kondisi yang berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk lebih waspada dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang memburuk atau tidak kunjung membaik.
Melalui acara ini, PKT UGM menekankan pentingnya kehati-hatian terhadap Hantavirus tanpa menimbulkan rasa panik. Deteksi dini, penelusuran riwayat kontak yang akurat, serta penguatan langkah pencegahan berbasis lingkungan dianggap sangat penting untuk menurunkan risiko penularan penyakit yang berkaitan dengan hewan pengerat. Edukasi masyarakat dan kesiapsiagaan tenaga kesehatan juga diharapkan dapat memperkuat upaya pengendalian penyakit infeksi yang berhubungan dengan hewan pengerat di Indonesia.
SON


















