Yogyakarta, SURYAPOS (12/08/2026) – Kawasan Malioboro, Yogyakarta, menjadi titik awal penyelenggaraan Suara Inklusi untuk Semua 2026, Rabu (12/8/2026). Kegiatan yang diinisiasi DIWA Foundation ini mengusung pesan persatuan, kesetaraan, dan inklusivitas dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Rangkaian Suara Inklusi untuk Semua 2026 dimulai pukul 14.00 WIB dan berlangsung dari kawasan Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Sejumlah agenda utama disiapkan, mulai dari Parade Kebangsaan, pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter, hingga upaya pencatatan Rekor MURI yang melibatkan sekitar 1.000 penyandang disabilitas.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan panggung seni dan kreativitas penyandang disabilitas serta penampilan penyanyi Putri Ariani.
Malioboro Jadi Titik Awal Suara Inklusi untuk Semua
Founder DIWA Foundation, Diah Warih Anjari, mengatakan Yogyakarta dipilih sebagai lokasi awal sebelum kegiatan Suara Inklusi untuk Semua dilaksanakan secara estafet di berbagai daerah di Indonesia.
“Ini merupakan sebuah titik awal dari serangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan oleh DIWA Foundation secara estafet di seluruh Indonesia,” ujar Diah Warih dalam jumpa pers Suara Inklusi untuk Semua di Ruang Rapat Lantai 1 Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Pesan utama yang ingin dibawa adalah setiap masyarakat mempunyai ruang dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Parade Kebangsaan Melintasi Malioboro
Salah satu agenda utama adalah Parade Kebangsaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Peserta parade berasal dari organisasi kemasyarakatan, komunitas, pelajar, mahasiswa, pemangku kebijakan, TNI/Polri, serta masyarakat umum dari berbagai profesi.
Parade dijadwalkan bergerak dari kawasan Gedung DPRD DIY menuju Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Peserta akan menggunakan atribut yang menunjukkan identitas kelompok masing-masing. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan penyelenggara bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berjalan bersama.
Bendera Merah Putih menjadi simbol utama dalam Parade Kebangsaan tersebut.
Bendera Merah Putih 1.000 Meter Dibentangkan di Malioboro
Agenda yang diperkirakan menjadi salah satu perhatian masyarakat adalah pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter di kawasan Jalan Malioboro.
Bendera tersebut akan dibentangkan secara bersama-sama oleh berbagai unsur masyarakat.
Mulai dari organisasi kemasyarakatan, komunitas, pelajar, mahasiswa, petani, pedagang, ibu rumah tangga hingga masyarakat umum akan dilibatkan dalam prosesi tersebut.
Bagi DIWA Foundation, pembentangan Bendera Merah Putih bukan hanya atraksi visual. Prosesi tersebut menjadi simbol persatuan dan representasi aspirasi masyarakat kepada para pemimpin.
Bendera kemudian akan diserahkan oleh masyarakat kepada perwakilan pemimpin di atas panggung.
Prosesi itu dimaknai sebagai simbol dititipkannya harapan, aspirasi, dan amanah masyarakat untuk membawa Indonesia menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
1.000 Penyandang Disabilitas dan Masyarakat Rentan Pecahkan Rekor MURI
Pesan inklusivitas menjadi semakin kuat melalui keterlibatan sekitar 1.000 penyandang disabilitas dan masyarakat rentan dalam agenda pencatatan Rekor MURI. Mereka akan terlibat dalam pengucapan dan pembacaan teks Proklamasi secara bersama-sama dan dipandu dengan bahasa isyarat.
Keterlibatan tersebut tidak hanya dipandang sebagai upaya mencatatkan rekor, tetapi juga menjadi simbol bahwa penyandang disabilitas memiliki posisi yang setara sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Diah Warih mengatakan pencatatan rekor tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan.
“Ini bukan hanya sekadar pemecahan Rekor MURI. Ini melambangkan bahwa dengan kebersamaan dan keutuhan rakyat Indonesia dengan semangat proklamasi, yang merupakan titik awal perjalanan bangsa, akan membawa bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045,” kata Diah.
Selain terlibat dalam prosesi pembacaan Proklamasi, penyandang disabilitas juga mendapatkan ruang untuk menunjukkan kreativitas dan karya mereka.
Penyandang Disabilitas Diberi Ruang di UMKM
Konsep inklusivitas dalam kegiatan tersebut tidak berhenti pada seremoni. DIWA Foundation juga memberikan ruang kepada penyandang disabilitas untuk terlibat dalam kegiatan UMKM.
Pelaku UMKM penyandang disabilitas diajak untuk ikut membuka pasar dan memasarkan produk mereka dalam rangkaian kegiatan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas dalam bidang ekonomi.
Penyelenggara ingin menunjukkan bahwa inklusivitas tidak hanya berarti mengikutsertakan penyandang disabilitas dalam sebuah acara, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk berkarya, berusaha, dan mendapatkan penghasilan.
Angkat Pendidikan Setara dan Hak Anak
Suara Inklusi untuk Semua 2026 juga membawa isu mengenai hak anak dan pendidikan.
Dalam kegiatan tersebut, penyelenggara menyoroti empat hak dasar anak, yakni hak untuk tumbuh dan berkembang, hak memperoleh pendidikan, hak mendapatkan perlindungan, serta hak untuk berpartisipasi.
Pesan tersebut salah satunya diwujudkan melalui perhatian terhadap pendidikan yang setara dan bermutu.
Anak-anak penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan juga menjadi bagian dari upaya menunjukkan bahwa mereka mempunyai hak yang sama untuk memperoleh ruang pendidikan dan partisipasi di tengah masyarakat.
Sesuaikan dengan Sumbu Filosofi Yogyakarta
Pelaksanaan kegiatan di Malioboro hingga Titik Nol Kilometer juga membuat penyelenggara memperhatikan keberadaan Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Penyelenggara menyebut telah mendapatkan arahan dari Pemerintah Kota Yogyakarta terkait pelaksanaan kegiatan di kawasan yang memiliki nilai filosofi dan budaya tersebut.
Konsep acara bahkan mengalami beberapa kali penyesuaian agar rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku di kawasan Sumbu Filosofi.
Kegiatan yang mengambil garis dari kawasan Malioboro menuju Titik Nol Kilometer disebut memiliki keterkaitan dengan konsep garis lurus yang menjadi bagian dari filosofi kawasan tersebut.
Penyelenggara juga menyampaikan telah melakukan sowan kepada Ngarsa Dalem pada awal Mei sebagai bagian dari persiapan kegiatan.
Ada Agenda Istana untuk Rakyat
Rangkaian Suara Inklusi untuk Semua juga terhubung dengan kegiatan Istana untuk Rakyat di Gedung Agung Yogyakarta.
Sekitar 100 anak yang telah dipilih akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Agenda Istana untuk Rakyat dijadwalkan berlangsung bersamaan dengan kegiatan yang berlangsung di Istana Agung.
Konsep tersebut menjadi bagian dari rangkaian pesan bahwa masyarakat, termasuk anak-anak dan kelompok yang selama ini membutuhkan perhatian lebih, mempunyai ruang untuk mengenal dan berinteraksi dengan lingkungan kenegaraan.
Putri Ariani Tampil di Panggung Suara Inklusi
Setelah rangkaian kegiatan seremonial, panggung Suara Inklusi untuk Semua akan dilanjutkan setelah jeda Magrib.
Panggung tersebut akan memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menampilkan berbagai karya dan kreativitas, seperti menyanyi dan tari.
Putri Ariani dijadwalkan tampil sebagai salah satu penampil sekaligus menjadi bagian dari penutup rangkaian panggung.
Kehadiran Putri Ariani juga berkaitan dengan kampanye kesehatan mental yang digagas bersama DIWA Foundation.
Melalui kolaborasi tersebut, DIWA Foundation berencana melanjutkan kampanye kesehatan mental melalui roadshow ke sejumlah kampus.
Pesan yang dibawa adalah pentingnya membangun kesadaran mengenai kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda.
Pameran UMKM di Kawasan Benteng Vredeburg
Selain parade dan panggung hiburan, masyarakat juga dapat menemukan pameran UMKM yang ditempatkan di sekitar kawasan Benteng Vredeburg.
UMKM dari berbagai wilayah di Yogyakarta dilibatkan untuk membuka ruang promosi dan pemasaran produk.
Penyelenggara juga menghadirkan ruang sosialisasi dari sejumlah pihak yang berkaitan dengan program pelayanan kepada masyarakat.
Dengan demikian, kegiatan Suara Inklusi untuk Semua tidak hanya menjadi parade kebangsaan, tetapi juga menggabungkan unsur seni, ekonomi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan kampanye sosial.
Jadwal Suara Inklusi untuk Semua 2026 di Malioboro
Masyarakat Yogyakarta yang ingin menyaksikan langsung kegiatan ini dapat datang ke kawasan Malioboro pada Rabu (12/8/2026).
Rangkaian acara dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dengan titik kegiatan berada di kawasan Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Beberapa agenda utama yang dapat disaksikan masyarakat meliputi:
Parade Kebangsaan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, organisasi kemasyarakatan, komunitas, pelajar, mahasiswa, TNI/Polri dan masyarakat umum.
Pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter di Jalan Malioboro.
Pengucapan dan pembacaan teks Proklamasi dengan bahasa isyarat yang melibatkan sekitar 1.000 penyandang disabilitas untuk pencatatan Rekor MURI.
Pertunjukan seni dan kreativitas penyandang disabilitas setelah jeda Magrib.
Penampilan Putri Ariani sebagai bagian dari rangkaian panggung.
Pameran dan bazar UMKM, termasuk pelaku UMKM penyandang disabilitas.
Melalui Suara Inklusi untuk Semua 2026, DIWA Foundation berharap Yogyakarta dapat menjadi titik awal penyebaran pesan kesetaraan ke berbagai wilayah Indonesia.
Malioboro tidak hanya menjadi lokasi parade, tetapi juga diposisikan sebagai ruang untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam satu pesan: bahwa keberagaman, kesetaraan, dan inklusivitas merupakan bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
SON



















