PPKM Darurat, Pilih Landai apa Puncak

Ir. KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M. Sc., Lic. Eng., Ph.D.
banner before

Yogyakarta SURYAPOS Kurva harian yang disajikan Satgas Pusat Covid-19, bukan sekedar bersifat statistik deskriptif, namun mempunyai makna fisis yang mendalam. Dari magnitude dan bentuk kurvenya menggambarkan banyak hal.
Kurve Laju Pasien Positif vs. Waktu, menggambarkan tambahan jumlah pasien positif setiap hari. Kurve Laju Pasien Sembuh vs. Waktu, menggambarkan distribusi pasien sembuh harian. Jika kedua kurve ini diplot secara bersama, maka akan menggambar -kan dinamika antara laju pasien sakit dan laju pasien sembuh dalam korelasi invers.

Seperti kita ketahui semua, bahwa infeksi virus covid-19 ditentukan oleh mobilitas manusia. Dari Maret hingga Oktober 2020, kurve harian Indonesia sangat landai. Mulai merangkak naik mendekati Perayaan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, yang puncaknya pada bulan Februari 2021 di kisaran 16.000 pasien positif perhari. Mereda di akhir bulan Maret 2021, dan melandai di kisaran 6000, fluktuatif. Akibat mudik lebaran 2021, merangkak naik pada awal Mei dan melonjak tinggi hingga 47.000 pasien perhari. Ada argumen akademis mengapa puncak pertama, kedua, ketiga, dst cenderung meninggi.

Kurve harian terdiri bagian yang melandai dan bagian puncak. Jika data harian diinterpolasi, maka peak shape bisa didekati dua jenis yaitu symmetrical Gaussian atau Asymmetrical Lorentzian. Jika angka kematian harian relatif tinggi dibandingkan laju pasien positif harian, maka polanya mengikuti Lorentzian curve shape, namun jika angka kematian relatif rendah, maka polanya Gaussian curve shape. Maaf, saya pakai istilah kualitatif, karena secara kuantitatif, penjelasannya sangat rumit.

Jika kurve harian diintegralkan, maka hasilnya adalah total manusia yang terinfeksi, total manusia yang sembuh dan total manusia yang meninggal. Jumlah manusia dalam tiga hal tersebut bisa dikonversi ke energi.
Pada fase puncak, seperti yang kita saksikan saat ini, yaitu sbb:
1. Jumlah pasien melonjak yang akumulasinya jauh di atas kemampuan Faskes menanganni pasien dengan baik dan
    proper.
2. Akibatnya angka kematian harian menjadi sangat tinggi, seperti yang kita lihat sekarang ini. Waktu berlangsung cepat 6 
   – 8 minggu, namun kita hancur-hancuran. Biayanya sangat mahal.

Pada fase melandai, taruhlah di kisaran 6000an perhari, maka akumulasinya, setelah dikurangi jumlah pasien sembuh, tidak menjadi beban berat bagi Faskes dan angka kematian harian relatif rendah. Biayanya relatif murah.

Integral keduanya harus sama. Apakah jika melandai akan butuh waktu panjang? Untuk case Indonesia saat ini, jawabnya tidak. Karena, ada proses vaksinasi.

Kebijakan Pemerintah sudah tepat: PPKM Darurat dan Vaksinasi paralel. Kuncinya tegas dan konsisten. Terimakasih.
Yogyakarta, 2021-07-13

Ir. KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M. Sc., Lic. Eng., Ph. D.
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
BP. Widyakanigara
banner 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published.