Suryapos

Transformasi Digital Indonesia: Ekosistem Infrastruktur, Inovasi, hingga Ketahanan Keamanan Siber Berbasis AI

×

Transformasi Digital Indonesia: Ekosistem Infrastruktur, Inovasi, hingga Ketahanan Keamanan Siber Berbasis AI

Share this article
IFMAC 2025 | JAKARTA

YOGYAKARTA(31/01/2026). Sebuah program bertajuk Transformasi Digital menjadi kerja besar yang melibatkan berbagai institusi dan masyarakat Indonesia yang hidup dan pekerjaannya menggunakan peralatan digital produk dari industri teknologi informasi. Pola perubahan dan adaptasi terhadap teknologi informasi lewat kanal besar internet membuat setiap orang yang menggunakannya wajib memahami dan menguasai ruang lingkup transformasi digital yang begitu cepat

IFFINA 2025 | ICE BSD

Transformasi digital di Indonesia tidak bisa dilakukan secara acak dan reaktif. Ini memerlukan tujuan yang jelas, visi dalam jangka panjang, serta keberanian pemerintah untuk menciptakan kedaulatan digital dari awal sampai akhir. Di tengah cepatnya perkembangan teknologi global, Indonesia memilih pendekatan yang strategis: menjadikan transformasi digital sebagai alat untuk pembangunan nasional yang komprehensif, berkelanjutan, dan proaktif terhadap masa depan.
Arah besar ini berfokus pada tiga pilar utama yang kini menjadi dasar kebijakan digital nasional.

Yang pertama adalah lokalisasi, yaitu langkah penting untuk memperkuat kemandirian digital melalui investasi pada infrastruktur teknologi informasi di dalam negeri. Pengembangan edge computing dan layanan cloud nasional bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga merupakan strategi geopolitik digital untuk memastikan data, proses, dan nilai ekonomi tetap berakar di Indonesia.

Yang kedua adalah inovasi yang menempatkan penelitian dan pengembangan sebagai inti dari pertumbuhan ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). AI kini tidak hanya dipahami sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga sebagai pendorong daya saing negara. Tanpa adanya ekosistem riset yang solid, Indonesia berpotensi menjadi konsumen, bukan penggerak utama, dalam ekonomi digital dunia.

Yang ketiga adalah investasi strategis, yang lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur fisik. Investasi ini ditujukan untuk menjamin keterhubungan Indonesia dalam jaringan ekosistem AI global—mulai dari pengembangan bakat, penguatan sektor industri, hingga integrasi sistem digital di berbagai sektor. Ini adalah fondasi agar transformasi digital tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada keberlanjutan.

Namun, di balik peluang besar ini, tersimpan satu tantangan penting: keamanan siber. Semakin canggih teknologi, semakin rumit pula ancaman yang ada. AI bukan hanya alat untuk pertahanan, tetapi juga bisa menjadi senjata baru dalam dunia kejahatan siber.

AI dan Keamanan Siber: Menjaga Masa Depan Ruang Digital Nasional

Kesadaran ini menjadi dasar diadakan Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security, sebuah forum strategis yang menyatukan pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam satu tempat pembelajaran kolaboratif. Acara ini diselenggarakan oleh Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) Yogyakarta bersama Komunitas Cyberkarta, sebagai bentuk komitmen nyata untuk meningkatkan literasi dan keterampilan dalam keamanan siber yang berbasis kecerdasan buatan.

Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security ini berlangsung pada Sabtu (31/1/2026), dari pukul 08. 30 hingga 13. 30 WIB, di Kantor Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) Yogyakarta, di Jalan Imogiri Barat KM 5, Bangunharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Forum ini menjadi ruang strategis bagi pemerintah, komunitas siber, dan masyarakat untuk memperdalam pemahaman serta kesiapan menghadapi tantangan keamanan digital di era kecerdasan buatan.

Dengan tema AI-Security, acara ini tidak hanya membahas tentang ancaman dan teknologi, tetapi juga mengenai etika, tata kelola, dan kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi era kecerdasan buatan yang semakin mandiri.
Kehadiran Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, sebagai pembicara utama, menegaskan pentingnya isu keamanan siber dalam agenda nasional. Pemerintah tidak hanya berfungsi sebagai pengatur, tetapi juga sebagai penggerak untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan berdaulat.
Workshop ini menjadi momen penting bahwa transformasi digital di Indonesia tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya perlindungan. Keamanan siber bukan sekadar masalah teknis, melainkan syarat utama untuk membangun kepercayaan publik, kelangsungan industri, dan stabilitas nasional dalam era digital.

Keamanan Digital adalah Fondasi Kepercayaan Industri dan Pariwisata
Di tengah perubahan yang terjadi akibat transformasi digital, Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) DPD DIY, menekankan bahwa masalah keamanan siber sekarang telah meluas melampaui sekadar sektor teknologi dan sudah menyentuh inti dari industri yang berbasiskan pengalaman, termasuk dalam sektor pariwisata.

“Transformasi digital dalam bidang rekreasi dan pariwisata tidak hanya berkisar pada pemasaran secara daring atau sistem pemesanan tiket secara online. Yang jauh lebih signifikan adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu dapat tumbuh hanya jika sistem digital yang ada aman,” jelas Agus.

Ia berpendapat bahwa penggunaan AI dalam sektor pariwisata—mulai dari pemantauan perilaku wisatawan, penyediaan layanan yang dipersonalisasi, hingga pengelolaan pengunjung—harus disertai dengan persiapan keamanan siber yang matang. Tanpa hal tersebut, digitalisasi bisa saja menimbulkan kerentanan baru.

Agus menganggap acara seperti Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security sangat strategis karena dapat menghubungkan kebijakan, teknologi, dan dunia usaha. “Industri memerlukan kolaborasi dalam belajar. Tidak semua pelaku bisnis memahami sepenuhnya risiko yang terkait dengan keamanan siber, padahal dampaknya dapat langsung berpengaruh pada reputasi dan kelangsungan usaha,” ujarnya.

Dia juga menekankan betapa pentingnya kerjasama antar sektor. “Keamanan digital bukan hanya tugas pemerintah atau pihak teknologi. Ini adalah tanggung jawab bersama. Ketika sumber daya manusia kita semakin sadar dan terlatih, maka ekosistem digital nasional akan jauh lebih kokoh. ”

Bagi Agus, transformasi digital yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang tercepat dalam mengadopsi teknologi, tapi siapa yang paling siap untuk mempertahankan kelangsungan tersebut. “Di situlah letak pentingnya keamanan siber—ia bukan sebagai penghalang bagi inovasi, melainkan sebagai pelindung untuk masa depan. ”

SON

RHVAC INDONESIA 2025
AYO PASANG IKLAN
FLOORTECH INDONESIA 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IFFINA 2025 | ICE BSD