Yogyakarta(24/01/2025). Nama Mahasvin Farm mungkin belum banyak dipahami oleh orang-orang secara umum, tetapi bagi pengelola kebun binatang kecil, taman pendidikan hewan, hingga tempat wisata berbasis satwa di Indonesia, entitas ini merupakan salah satu pemain penting. Dalam ekosistem penangkaran satwa langka dan eksotis, Mahasvin Farm memegang peranan penting karena keberhasilannya mengembangbiakkan burung merak dan burung unta sekaligus menyebarkannya ke seluruh Indonesia.
“Kami memasok satwa eksotis ke kebun binatang Gembira Loka dan Suralaya. Selain Jogja, pasokan terbanyak kami di area pulau jawa dengan peminat dari institusi dan perorangan,” terang Langgoso Aswin Putra pemilik Mahasvin Farm saat diwawancara di lokasi pameran.
Berlokasi di Candi Gebang, Wedomartani, Sleman, Mahasvin Farm terkenal sebagai tempat penangkaran hewan eksotis yang beroperasi secara nasional, memasok berbagai macam hewan ke kebun binatang kecil di hampir seluruh pelosok negeri. Kali inj, Aswin membawa koleksi merak miliknya pada acara ‘Pets and Plants Festival 2026’ di Jogja City Mall, Jalan Magelang, Yogyakarta. Kehadiran hewan eksotis ini membuat kagum para pengunjung. Mereka dapat berfoto bersama para merak dan mempelajari jarak dekat di lokasi atrium Jogja City Mal.


Aswin menerangkan, penangkaran yang ia dirikan sejak tahun 2012 ini berfokus pada hewan-hewan eksotis impor yang legal, terdaftar, dan ditangkarkan dengan cara berkelanjutan.
“Nyaris seluruh destinasi wisata berbasis hewan di Indonesia kami penuhi. Kebun binatang kecil, taman edukasi, hingga wisata keluarga banyak yang mengambil dari kami,” jelas Aswin. Sabtu (24/01/2026).
Mahasvin Farm tidak langsung besar. Aswin membagikan bahwa usaha ini dimulai dari modal yang hampir tidak masuk akal.
“Kami memulai pada tahun 2012 dengan modal Rp25 ribu. Waktu itu kami hanya beternak ayam hias, yaitu ayam Polandia,” ujarnya.


Dari titik awal tersebut, Mahasvin Farm tumbuh menjadi penangkaran hewan eksotis dengan koleksi ratusan merak, burung unta, berbagai jenis ayam hutan dari beberapa negara, kura-kura, reptil, hingga pigmy goat yang merupakan kambing terkecil di dunia.
Saat ini, merak jadi salah satu satwa unggulan yang diternakkan di Mahasvin Farm.
“Merak mungkin sudah mencapai ratusan ekor. Untuk burung unta, indukan dewasa kami memiliki sekitar tujuh hingga sepuluh ekor,” terang Aswin.
Anakan burung unta secara rutin dilepas untuk menghindari overpopulasi.
“Jika tidak dijual, kami tidak akan memiliki cukup ruang. Maka, anakan harus selalu keluar,” tambahnya.
Legalitas Satwa Impor dan Kepatuhan Regulasi
Aswin menegaskan bahwa semua hewan yang dirawat di Mahasvin Farm merupakan hewan impor dengan asal yang jelas, bukan hasil tangkapan dari alam liar atau perdagangan ilegal.
“Hampir semua hewan kami diimpor. Legalitasnya hanya memerlukan izin impor yang sah atau dibeli dari importir resmi. Yang terpenting adalah ada bukti asal, bukan dari pasar gelap,” kata Aswin.
Ia juga menerangkan perbedaan dasar antara satwa impor dan satwa asli Indonesia yang dilindungi oleh undang-undang.
“Kalau satwa lokal atau asli Indonesia itu dilindungi oleh undang-undang dan harus ada izin dari BKSDA. Namun, untuk satwa impor, aturannya berbeda. Meski begitu, kami tetap berkoordinasi dengan BKSDA,” sambungnya.
Pengelolaan hewan di Mahasvin Farm juga mengikuti regulasi nasional, termasuk UU Nomor 32 Tahun 2024 sebagai revisi dari UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, serta aturan karantina dan perdagangan internasional seperti CITES.
Merak, Satwa Favorit Mini Zoo
Di antara berbagai hewan yang dikembangbiakkan, merak menjadi favorit di kebun binatang kecil.
“Merak itu tidak perlu diragukan. Semua orang menganggapnya cantik. Jika ada uang, pasti akan dibeli,” ungkap Aswin.
Menurutnya, harga hewan hobi tidak memiliki standar yang tetap.
“Berbicara tentang hobi, tidak ada harga pasar yang baku. Jika orang suka, dan merasa cocok, mereka akan membayar berapa pun,” lanjutnya.


Harga sepasang burung unta bisa mencapai Rp150 juta, sedangkan merak dengan pola yang unik, perilaku jinak, atau mudah dilatih bahkan dapat bernilai lebih tinggi.
Pengalaman 15 Tahun dan Tingkat Kematian Rendah
Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun dalam bidang peternakan hewan, Aswin mengklaim bahwa Mahasvin Farm memiliki tingkat keberhasilan penangkaran yang sangat tinggi.
“Jika dianggap sulit, itu karena belum mengetahui cara melakukannya. Setelah mengerti, merawat burung merak itu mudah,” kata dia.
Tingkat kematian hewan di Mahasvin Farm dianggap sangat rendah. Aswin membuat prosedur baku memelihara burung Unta dan merak yang disesuaikan dengan temperatur negara asal satwa impor tersebut. Kalaupun terjadi angka kematian, biasanya akibat faktor non teknis.
“Dalam satu tahun, angkanya tidak lebih dari 10 persen, mungkin hanya sekitar 5 persen atau bahkan kurang. Umumnya, disebabkan oleh perkelahian untuk wilayah atau memperebutkan betina, ” jelas Aswin.
Perawatan kesehatan hewan biasanya dikelola sendiri berdasarkan pengalaman di lapangan. Namun, untuk kasus-kasus yang memerlukan obat resep, Mahasvin Farm bekerja sama dengan dokter hewan.
Kolaborasi Akademik dengan UGM
Mahasvin Farm juga dijadikan tempat belajar bagi mahasiswa, terutama yang berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
“UGM yang paling sering. Mereka mengirim mahasiswa untuk magang, program MBKM, pendidikan terbuka, kuliah merdeka. Kita berbagi pengetahuan,” ungkap Aswin.
Kerja sama ini memberikan manfaat bagi kedua pihak: mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis, sedangkan Mahasvin Farm menerima dukungan dari sisi akademik.
Selain bisnis penangkaran, Mahasvin Farm juga mengelola Mahasvin Institute, sebuah sekolah alam gratis untuk anak-anak.
“Kita belajar tentang mitologi hewan, filosofi, hingga peternakan. Semuanya tanpa biaya,” kata Aswin.
Sebagian besar hewan yang dipelihara dipilih karena makna historis dan mitologisnya.
“Kita umumnya merawat hewan-hewan mitologi, hewan yang dianggap penting dalam peradaban jaman dulu,” jelasnya.
Edukasi Konservasi Lewat Pameran di Mal
Komitmen edukasi Mahasvin Farm juga ditunjukkan melalui pameran, salah satunya Taman Merak di Jogja City Mall, yang disebut sebagai taman merak pertama dan satu-satunya di Indonesia.
“Kami ingin pengunjung mal juga menyadari pentingnya konservasi. Mereka biasanya jarang berinteraksi dengan hewan,” tutur Aswin.
Ia berpendapat bahwa masyarakat di daerah perkotaan memiliki potensi besar untuk berpartisipasi dalam konservasi.
“Saya percaya di antara mereka ada yang memiliki lahan besar, villa, atau tanah kosong. Itu bisa dimanfaatkan untuk penangkaran burung merak. Selain untuk konservasi, ini juga ada segi bisnisnya,” tambahnya.
Pihaknya juga menyediakan program bimbingan bagi calon peternak, mulai dari izin, perawatan, hingga pembiakan.
“Kami siap membantu segala hal. Dari aspek hukum, teknis, hingga kesehatan hewan. Tim kami langsung terjun ke lapangan,” jelas Aswin.
Bagi Aswin, konservasi bukan hanya sekadar teori belaka.
“Tugas manusia adalah melindungi alam, bukan merusaknya. Kita diberikan tanah, sumber daya ekonomi, semua itu disertai tanggung jawab untuk menjaga kelestarian hewan,” tutup Aswin.
SON

















