Pelestarian Prasasti Perjuangan Jembatan Bantar Kulonprogo.

banner before

Kulonprogo SURYAPOS – Jembatan Bantar yang didirikan pada tahun 1886 dan disempurnakan pada tahun 1929, membentang di atas kali Progo yang menghubungkan wilayah Sedayu Kabupaten Bantul dan Sentolo Kabupaten Kulonprogo, mempunyai sejarah panjang sebagai saksi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan pendudukan Belanda.

Prof Dr Ir Indroyono Soesilo, bersama dengan Komunitas Jogja 45 dan Towil Fiets menggelar Napak Tilas dan Peresmian Prasasti Peringatan Sejarah Jembatan Bantar pada Jumat (24/9) yang juga dihadiri oleh Bupati Kulonprogo Drs H Sutedjo dan Kepala Pusat Sejarah Akmil Magelang, Letkol Caj Ilham.

Pembangunan jembatan Bantar diawali pada tahun 1916, setelah Ir Verhoog dan Ir Jurgensen West dari Burgerlijek Openbare Werken (sekarang Dinas Pekerjaan Umum) merancang sebuah jembatan dengan teknologi paling modern saat itu, dan pembangunan fisik dimulai pada tahun 1917, namun terkendala dengan meroketnya harga baja pasca perang dunia 1″, ujar Indroyono Soesilo.

Bupati Kulonprogo, Drs H Sutedjo bersama Prof Dr Ir Indroyono Soesilo, Letkol Caj Ilham, Muntowil, sesaat sebelum menuju Prasasti Monumen Perjuangan Jembatan Bantar pada Jumat (24/9).

Lebih lanjut putra dari Jenderal (Purn) Soesilo Soedarman menuturkan, pembangunan jembatan Bantar kembali dilanjutkan pada tahun 1928 dan selesai pada tahun 1929, dilakukan peresmian oleh Gubernur Yogyakarta, J.E. Jasper, sehingga dinamakan jembatan Gouverneur Jasperbug.

Jembatan Bantar punya nilai sejarah yang tinggi bagi perjuangan Bangsa Indonesia, utamai bagi para pejuang yang berada pada Wehkreise III“, papar Indroyono.

Sementara itu, Bupati Kulonprogo Drs H Sutedjo memberikan apresiasinya kepada Prof Dr Ir Indroyono Soesilo beserta keluarga besar Paguyuban Wehkreise III, Pegiat Wisata Muntowil dan Komunitas Jogja 45 dan berharap agar sisi sejarah ini, bisa diangkat kembali dan diketahui oleh generasi muda.

Ini sesuatu yang positif bagi Kabupaten Kulonprogo, sejarah panjang dan berharga ini harus disampaikan kepada generasi muda“, ujar H Sutedjo, sesaat menuju ke Prasasti Perjuangan Jembatan Bantar.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Komunitas Jogja 45, Eko Isdianto, sebagai bagian dari elemen bangsa, Komunitas Jogja 45 berharap agar, sejarah besar perjuangan para Pahlawan Bangsa ini bisa jadi tauladan bagi para generasi muda untuk berperan aktif mengisi pembangunan bangsa.

Harapan kami, tetenger bagi perjuangan para Pahlawan Bangsa ini, bisa dinikmati sebagai fasilitas publik yang juga sebagai referensi perjuangan para Pahlawan Bangsa di wilayah Sedayu Bantul dan Sentolo Kulonprogo”, ujar Eko.

Sementara itu Kepala Sejarah Akmil Magelang, Letkol Caj Ilham menyampaikan bahwa, yang paling penting dan pokok adalah meneladani sikap nasionalisme yang ditunjukkan oleh para pendahulu bangsa yang gugur saat merebut serta mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia, khususnya saat mereka bertempur di 17 front di kawasan jembatan Bantar, yang mengakibatkan 4 orang gugur.

Jembatan Bantar merupakan salah satu tempat yang strategis bagi Belanda, sehingga para pejuang harus bisa merebutnya dengan taktik perang gerilya, dan jembatan Bantar punya peran yang penting saat serangan umum 1 maret”, pungkas Ilham.

Muntowil salah satu pegiat wisata dengan Towil fietsnya, akan menjadikan jembatan Bantar sebagai salah satu destinasi andalannya ketika, pariwisata sudah mulai dibuka dan normal kembali, sekaligus akan menjaga prasasti yang menjadi tetenger perjuangan para Pahlawan Bangsa.

banner 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published.