Yogyakarta(16/02/2026).Permasalahan penumpukan sampah dan asap hasil pembakaran terbuka masih menjadi tantangan lingkungan di Padukuhan Sumberan, Kalurahan Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Meningkatnya volume sampah rumah tangga ditambah belum optimalnya pemilahan sampah mendorong praktik pembakaran terbuka yang menghasilkan asap berlebihan dan mengganggu kenyamanan serta kesehatan warga sekitar.

Merespons kondisi tersebut mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) Angkatan XLI Tahun 2026 yang tergabung dalam skema Peduli Kampus dan Masyarakat Sekitar Kampus (PKMSK) Kelompok 09 yang berjumlah 7 orang hadir membawa solusi pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Program KKN ini dilaksanakan pada 19 Januari 2026 hingga 9 Februari 2026. Kegiatan difokuskan pada upaya pengurangan volume sampah dan penekanan dampak asap pembakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Padukuhan Sumberan Yogyakarta.
Program utama yang dilaksanakan adalah pembuatan insinerator sederhana minim asap. Insinerator ini dirancang sebagai alternatif pembakaran sederhana dan ramah lingkungan dengan sistem yang lebih tertutup, sehingga diharapkan mampu mengurangi sebaran asap pekat ke permukiman warga sekaligus membantu mengatasi penumpukan sampah di TPA. Selain itu, mahasiswa KKN PKMSK UPY juga menjalankan program pembuatan komposter sebagai upaya pengelolaan sampah organik. Melalui komposter sederhana, sampah organik rumah tangga dapat diolah menjadi kompos, sehingga tidak seluruh sampah berakhir di TPA atau dibakar. Program ini menjadi langkah strategis dalam menekan volume sampah sejak dari sumbernya.
Untuk mendukung keberlanjutan program, mahasiswa KKN PKMSK UPY juga melaksanakan sosialisasi kepada mitra, yaitu keluarga Bapak Marsono sebagai pengelola sampah dari unsur masyarakat setempat, terkait penggunaan insinerator sederhana dan pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Kegiatan ini bertujuan membangun pemahaman mitra mengenai dampak negatif pembakaran sampah secara terbuka terhadap kesehatan dan lingkungan, serta pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Melalui sosialisasi tersebut, mitra diberikan penjelasan mengenai manfaat pemilahan sampah dalam mengurangi volume sampah yang harus dibakar.

Kegiatan pembuatan dekomposer sampah organik, 27 Januari 2026 – Dokumentasi: Violita Ds
Mahasiswa KKN juga memperkenalkan penggunaan komposter sederhana sebagai solusi pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sampah organik seperti sisa makanan dan daun kering diarahkan untuk diolah menjadi kompos sehingga memiliki nilai guna dan tidak menambah tumpukan sampah di TPA.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola TPA, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat.
Program pengelolaan sampah berbasis insinerator minim asap dan komposter ini mendapat sambutan positif dari masyarakat serta mitra padukuhan. Warga menilai kehadiran mahasiswa KKN PKMSK UPY memberikan solusi terhadap permasalahan lingkungan yang telah berlangsung lama khususnya terkait penumpukan sampah dan gangguan asap pembakaran. Upaya ini tidak hanya bersifat sementara tetapi juga menjadi langkah awal dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah dan ramah lingkungan di Padukuhan Sumberan. Kepala Dukuh Sumberan, Bapak Slamet Priyono, menyampaikan bahwa persoalan pengelolaan sampah selama ini masih menjadi tantangan di beberapa wilayah.
“Di beberapa RT, khususnya RT 10 dan RT 11, pengelolaan sampah masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Hal ini menimbulkan permasalahan karena pembakaran sampah belum terkelola dengan baik. Meskipun bersifat pengelolaan pribadi, dampaknya tetap menjadi masalah di tingkat padukuhan karena jika sampah tidak dikelola, sampah tersebut akan menyebar ke mana-mana,” ujarnya. Beliau menambahkan, keberadaan program insinerator dan komposter dari mahasiswa KKN PKMSK UPY menjadi salah satu solusi dalam mengatasi persoalan tersebut.
“Program ini menjadi solusi permasalahan sampah di Padukuhan Sumberan. Kami juga sudah beberapa kali melakukan pelatihan, sehingga pemilahan sampah organik dan anorganik bisa lebih tertata dan tidak terlalu banyak sampah yang terbuang ke pengelolaan akhir,” katanya.
Mahasiswa KKN PKMSK UPY berharap program ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat dengan dukungan pemerintah padukuhan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra padukuhan, dan warga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran yang tinggi akan pentingnya pengurangan volume sampah, pengendalian asap pembakaran, dan penerapan pola hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. Dengan adanya sinergi tersebut, Padukuhan Sumberan diharapkan dapat menuju lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga.
SON
















