Gunungkidul (DIY), SURYAPOS.id – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti ketimpangan harga ayam potong dan telur di pasaran. Perbedaan harga yang cukup jauh antara tingkat peternak dan konsumen tersebut dinilai perlu ditelusuri karena berpotensi merugikan produsen sekaligus membebani masyarakat.
Persoalan itu menjadi perhatian Amran saat mengunjungi perusahaan perunggasan terintegrasi PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, DIY, Kamis (15/10/2026).
Baca juga: HUT ke-196 Gunungkidul, Sri Sultan HB X Minta Pemkab Perkuat Sektor Pertanian
Dalam kunjungan tersebut, Amran meninjau secara langsung proses produksi perunggasan dari hulu hingga hilir. Pemerintah ingin mengetahui lebih jauh penyebab terjadinya anomali harga produk unggas yang dirasakan oleh peternak maupun konsumen.
“Kami mengunjungi PT Widodo Makmur Unggas karena kami ingin melihat secara langsung prosesnya, karena saat ini terjadi anomali,” kata Amran.
Amran mengungkapkan, harga ayam hidup di tingkat peternak saat ini berkisar Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram. Namun, harga ayam di tingkat konsumen dapat mencapai Rp 42.000 hingga Rp 45.000 per kilogram.
Baca juga: Polisi Sita 430 Pil Putih Berlogo Y dari 2 Pemuda di Bantul
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas telur. Menurut Amran, harga di tingkat peternak mengalami tekanan, sedangkan harga telur di tingkat konsumen dapat mendekati Rp 40.000 per kilogram.
“Peternak Rp 20.000-Rp 21.000 per kilogram, tetapi di ujung ayamnya Rp 42.000-Rp 45.000 per kilogram. Telur juga demikian, hampir Rp 40.000 per kilogram,” ujar Amran.
Menurut dia, perbedaan harga tersebut menunjukkan adanya persoalan yang perlu ditelusuri dalam rantai distribusi pangan. Pasalnya, peternak mengeluhkan rendahnya harga jual, sementara konsumen harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Mobil Toyota Agya Masuk Parit Usai Tabrakan dengan Truk Pasir di Patuk
Amran mengatakan, pemerintah akan memeriksa persoalan tersebut secara menyeluruh, mulai dari proses produksi hingga distribusi ke konsumen. Ia juga mengungkapkan telah mengirimkan surat kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) untuk menindaklanjuti persoalan anomali harga tersebut.
“Jadi yang berteriak itu produsen dan juga konsumen. Jadi artinya ada mindset yang tidak sehat. Kami sudah berkirim surat kepada Bapak Kapolri dan kami akan cek dari hulu ke hilir,” katanya.
Setelah mengumpulkan masukan dan mengidentifikasi sumber persoalan, pemerintah berencana menurunkan Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk membantu mengurai ketimpangan harga tersebut.
Baca juga: Kecelakaan di Jalan Jogja-Wonosari, Honda Accord Terperosok ke Parit
Amran menegaskan, pemerintah akan memeriksa satu per satu persoalan yang ditemukan sebelum menentukan langkah penanganan. Ia berharap mekanisme pembentukan harga dapat berjalan secara wajar sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
“Kami sudah meminta masukan. Nanti setelah itu kami simpulkan dan akan mengecek satu-satu. Tidak boleh ada yang tersakiti, terutama peternak kita,” ucapnya.
Amran juga menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi sekitar 4,8 juta peternak yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut dia, keberlangsungan usaha peternak perlu dijaga agar mereka tetap mampu menjalankan kegiatan produksi.
Baca juga: Lansia di Gedangsari Ditemukan Tak Bernyawa, Sejumlah Bagian Tubuh Terbakar
Ia menambahkan, kebijakan pemerintah di sektor pangan harus mampu memberikan manfaat bagi produsen sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat. Oleh karena itu, penelusuran terhadap rantai distribusi ayam dan telur akan dilakukan untuk memastikan pembentukan harga berlangsung secara wajar.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap persoalan yang menyebabkan ketimpangan harga dapat diketahui dan ditangani sehingga kepentingan peternak tetap terlindungi tanpa mengabaikan daya beli konsumen.



















