Bupati Sleman Resmikan Desa Tangguh Bencana

banner before
Sleman SURYAPOS – Pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) diharapkan menjadi desa yang mampu mengenali ancaman terhadap wilayah desanya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat dan segala potensinya  dalam mengurangi kerentanan bencana dan meningkatkan kemampuan untuk mengurangi resiko bencana di wilayah desanya.
 
  Pemerintah Kabupaten Sleman kembali selenggarakan Gladi Lapang pembentukan Desa Tangguh Bencana tahun 2021. Kali ini, penyelenggaraan Gladi Lapang dilakukan di Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Jumat (28/5).
 
   Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Drs.Joko Supriyanto Msi mengatakan bahwa Kalurahan Sumbersari merupakan Destana ke 65 yang dibentuk di wilayah kabupaten Sleman. Pembentukan Destana dan pelaksanaan Gladi Lapang atau simulasi penanggulangan bencana tersebut dinilai sebagai salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam menanggulangi potensi bencana yang berada di wilayah Kabupaten Sleman.
 
   “Kegiatan Gladi lapang  ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas warga masyarakat dalam pengurangan resiko bencana. Selain itu juga di dalam kegiatan tersebut dilakukan pembentukan Destana,tanpa peran aktif masyarakat,akan sulit bagi Pemerintah melakukan Mitigasi bencana di kab.Sleman”, jelasnya.
 
    Sebanyak 100 orang dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Adapun peserta Gladi Lapang tersebut terdiri dari berbagai unsur yaitu Pemerintah, Masyarakat, Swasta, Perguruan tinggi, LSM, Organisasi Masyarakat dan kelompok – kelompok lainnya.
 
    Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo yang hadir sekaligus membuka secara langsung kegiatan Pembentukan Desa Tangguh Bencana 2021 menyampaikan bahwa pelaksanaan gladi lapang penanggulangan bencana ini juga sebagai langkah untuk menyamakan persepsi dan mematangkan koordinasi antar instansi terkait penanganan bencana di wilayah kab.Sleman.
 
“Dalam menyikapi kejadian bencana, pada saat ini kita tidak lagi bersikap responsif namun sudah menuju preventif yaitu pengelolaan resiko bencana,” Katanya.
 
Menurut Kustini Sri Purnomo,adanya dampak yang lebih besar dalam peristiwa bencana terjadi diantaranya karena kurangnya pengetahuan kita tentang langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.
 
Berdasarkan hal tersebut, Kustini Sri Purnomo menyebut masyarakat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tepat dalam menghadapi bencana. Dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi dan meminimalisir jatuhnya korban jiwa.
 
    Dalam kegiatan Gladi lapang yang di ikuti sekitar 100 peserta juga di tampilkan simulasi penanganan bencana alam.  
banner 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published.