Hujan belum reda ketika puluhan pekerja sibuk memasang dekorasi pelaminan di sebuah gedung serbaguna di Yogyakarta, awal Mei lalu. Di tengah harga bahan pokok yang meningkat dan daya beli masyarakat yang melemah, pesta pernikahan tetap berlangsung. Namun skalanya berubah. Tidak lagi megah dengan ribuan undangan, melainkan lebih sederhana, intim, dan ketat dalam anggaran.
Bagi pelaku usaha wedding organizer(WO), perubahan itu terasa jelas dalam dua tahun terakhir. Permintaan jasa tidak benar-benar hilang, tetapi pola konsumsi pelanggan mengalami pergeseran drastis.
“Dulu klien datang dengan anggaran Rp300 juta sampai Rp500 juta untuk pesta besar. Sekarang banyak yang meminta paket Rp70 juta sampai Rp150 juta, tapi tetap ingin terlihat elegan,” ujar Cahya Andari, pemilik perusahaan WO di Yogyakarta. Cahya mengaku omzet bisnisnya turun hampir 35 persen dibanding masa sebelum tekanan ekonomi meningkat. Menurut dia, pasangan muda kini lebih rasional dalam mengelola pengeluaran. Banyak yang memilih akad sederhana, membatasi tamu menjadi 200–500 orang, atau menggabungkan prosesi akad dan resepsi dalam satu hari. “Kami harus mengubah cara kerja. Kalau dulu fokus menjual kemewahan, sekarang menjual efisiensi,” katanya.
Tren Pernikahan BergeserPerubahan pola pesta pernikahan terlihat dari menjamurnya konsep intimate wedding dan paket hemat. Beberapa WO mulai menawarkan sistem “all-in package” yang mencakup dekorasi, dokumentasi, tata rias, hiburan, hingga katering dengan harga tetap. Fenomena itu, menurut pengamat ekonomi kreatif Adi Setiawan, merupakan respon terhadap tekanan ekonomi kelas menengah.
“Ketika inflasi pangan tinggi dan biaya hidup naik, pengeluaran konsumtif seperti pesta akan disesuaikan. Orang tetap menikah, tapi skala acaranya berubah,” kata Adi saat dihubungi pekan ini. Di Indonesia, industri pernikahan masih menyimpan potensi pasar yang cukup besar. Berdasarkan data perkawinan nasional beberapa tahun terakhir, jumlah pernikahan tercatat mencapai lebih dari 1,5 juta per tahun. Artinya, kebutuhan jasa pernikahan tetap ada, meskipun nilai belanjanya berubah. Pelaku WO kini tidak lagi hanya bersaing pada estetika acara, tetapi juga kemampuan menekan biaya tanpa mengurangi kualitas.
Margin Untung Kian Menipis
Masalah utama pelaku WO bukan hanya menurunnya anggaran klien, melainkan meningkatnya biaya operasional. Harga bunga segar, sewa gedung, dekorasi, hingga katering mengalami kenaikan. “Kadang klien maunya harga murah, tapi ekspektasinya seperti pesta artis,” kata Anto MJ, pengusaha penyedia peralatan pernikahan sambil tertawa kecil. Menurut Anto, margin keuntungan kini jauh lebih tipis dibanding lima tahun lalu. Jika sebelumnya keuntungan bersih bisa mencapai 20–30 persen dari nilai proyek, kini banyak WO hanya mengambil margin sekitar 10 persen demi menjaga pasar. Kondisi itu diperburuk oleh perang harga di media sosial. Banyak penyedia jasa baru menawarkan paket murah untuk menarik pelanggan, bahkan dengan harga di bawah biaya operasional standar. “Persaingan makin berat karena semua orang bisa promosi di Instagram atau TikTok,” ujarnya.
Media Sosial Jadi Arena Bertarung di Tengah Kompetisi Ketat,
Hampir semua WO kini mengandalkan media sosial sebagai etalase utama bisnis. Video transformasi aula kosong menjadi ruang pesta elegan dalam waktu singkat terbukti efektif menarik perhatian calon pengantin. Konten “wedding budget minim tapi mewah” menjadi salah satu strategi pemasaran paling populer.“Kami sekarang lebih banyak dapat klien dari TikTok ketimbang pameran pernikahan,” kata Cahya.
Biaya promosi digital yang relatif murah dianggap lebih efisien dibanding mengikuti expo pernikahan yang memerlukan biaya jutaan rupiah.
Menjual Pengalaman, Bukan Kemewahan
Pengamat melihat masa depan bisnis WO tetap menjanjikan, tetapi dengan model yang berbeda. Fokus industri diperkirakan bergeser dari pesta mewah menjadi pengalaman personal. Pasangan muda saat ini dinilai lebih memilih acara yang hangat, autentik, dan relevan dengan kemampuan finansial mereka dibanding pesta besar demi gengsi sosial. “Yang dijual bukan lagi kemewahan, tapi kenyamanan dan memori,” kata Adi. Di tengah ketidakpastian ekonomi, pelaku wedding organizer tampaknya harus menerima kenyataan baru: pesta tetap ada, tetapi cara orang merayakannya berubah. Bagi mereka yang cepat membaca tren dan mampu beradaptasi, krisis justru bisa menjadi momentum menemukan bentuk bisnis baru yang lebih tahan banting.
Fenomena Bisnis Wedding Organizer di Bekasi
Berbeda dengan Yogyakarta, bisnis wedding organizer di kawasan Bekasi, khususnya wilayah Bekasi timur, justru kebalikannya. Eka Gartika S.E, General Manager dari hotel Nemuru Stay BTC memandang optimis terhadap bisnis ini.

“Manajemen hotel kami melihat ada peluang besar di bisnis WO. Wilayah Bekasi timur adalah pasar yang menarik dan hotel Nemuru Stay BTC menyediakan ballroom di mal BTC yang siap digunakan untuk acara pernikahan dengan kapasitas mencapai 1000 orang,” jelas Eka saat diwawancara Sabtu (24/05/2026). Lokasi mal BTC terintegrasi langsung dengan hotel Nemuru Stay BTC dalam satu wilayah Bekasi Trade Center (BTC).

“Kami berkonsentrasi mengembangkan wilayah Bekasi timur. Okupansi kamar hotel cukup tinggi, karena kami mempunyai pelanggan tetap yang sering menginap lama dan kebanyakan berasal dari pekerja di banyak industri yang tumbuh di wilayah Bekasi timur,” sambung Eka. Secara bisnis, hotel Nemuru Stay BTC berada di kawasan strategis di area pintu masuk wilayah Bekasi timur dan berada di jalur utama. “Kami telah melakukan bisnis WO sejak 2024. Awalnya bekerja sama dengan anak perusahaan Bukalapak. Namun mulai Juni 2024, kami menggandeng Esther Kho Bridal Couture untuk menjalankan kembali sayap bisnis WO yang kami kembangkan,” tambah Eka.

Sementara di acara Wedding Open House yang digelar 23-24 Mei 2026, Fanie, sales eksekutif dari Esther Kho menjelaskan tentang tantangan dan harapannya bekerjasama bersama Nemuru Stay Hotel. “Esther Kho awalnya berfokus pada desain busana pengantin. Kami membuat beragam desain berpola Payet maupun desain pakaian pengantin modern. Saat ini kami berkembang menjadi Wedding Planner terkemuka. Kami berharap bisa bekerja sama dengan baik dengan manajemen hotel,” jelas Fanie. Menurutnya bisnis WO itu tidak ada matinya. Pasarnya sangat luas karena kebutuhan perayaan pernikahan dilakukan semua masyarakat Indonesia.
“Klien kami tidak melulu dari Bekasi, kami sering mendapatkan klien dari Jakarta dan luar daerah,” ungkap Fanie. Esther Kho juga memberikan layanan jasa fotografi dan videografi bagi calon pengantin. Jasa layanan desain gaun pengantin menyesuaikan dengan anggaran yang disediakan klien. Sebagai salah satu perusahaan Bridal Couture terkemuka yang berfokus pada layanan Wedding Planner, Esther Kho telah teruji berbelas tahun menggarap bisnis yang tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi di Indonesia.
SON


















