Jakarta(01/06/2026). Maybank beroperasi sebagai PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Dulunya, bank swasta ini lebih dikenal dengan nama Bank Internasional Indonesia (BII) sebelum akhirnya resmi berganti nama menjadi Maybank.
Maybank Indonesia merupakan bagian dari Malayan Banking Berhad (Maybank), yang merupakan grup penyedia layanan keuangan terbesar di ASEAN dan salah satu bank terbesar di Malaysia.
Total aset PT Bank Maybank Indonesia Tbk tercatat sebesar Rp192,17 triliun per akhir Maret 2026, naik 1,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rincian pencapaian kinerja keuangan terkini Maybank Indonesia (berdasarkan laporan Q1 2026 dan akhir 2025):
Total Simpanan Nasabah (Maret 2026): Rp118,35 triliun
Laba Sebelum Pajak (Q1 2026): Rp397 miliar
Total Kredit/Pembiayaan (Maret 2026): Rp121,99 triliun
Sebagai pembanding:
- Tahun buku 2025, Maybank Indonesia membukukan laba bersih (PATAMI) Rp1,66 triliun, naik 48,5% secara tahunan (year-on-year).
- Laba sebelum pajak (PBT) 2025 mencapai Rp2,22 triliun, ditopang penurunan biaya provisi, kualitas aset yang membaik, dan efisiensi operasional.
Berikut bedah kinerja Maybank Indonesia per Maret 2026 (Kuartal I/2026) berdasarkan laporan keuangan dan rilis resmi perusahaan:
1. Laba Bersih Turun, tapi Tidak Mengkhawatirkan
Maybank Indonesia membukukan laba bersih (PATAMI) Rp299 miliar pada Maret 2026, turun sekitar 20,5% secara tahunan (YoY). Sementara laba sebelum pajak (PBT) tercatat Rp397 miliar, turun sekitar 21,5% YoY.
Namun penurunan ini bukan karena bisnis inti melemah, melainkan karena pendapatan non-bunga (fee based income) turun cukup tajam, terutama dari aktivitas treasury dan trading valuta asing/global markets yang tertekan volatilitas geopolitik global. Dampak situasi global akibat perang di timur tengah dan melemahnya nilai tukar rupiah mengakibatkan perekonomian di Indonesia menjadi terhambat dan memengaruhi kinerja perbankan secara nasional.
Kita mencoba menggunakan pendekatan perhitungan PATAMI(Profit After Tax and Minority Interest) untuk melihat Maybank secara keseluruhan.

Mengapa kita harus menghitung dengan metode PATAMI? Laba setelah pajak dan kepemilikan saham minoritas memainkan peran penting dalam keuangan. Hal ini berfungsi sebagai indikator penting kinerja keuangan perusahaan.
Para pemangku kepentingan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang profitabilitas perusahaan dengan menganalisis pendapatan bersih yang dihasilkan setelah pajak dan memperhitungkan kepemilikan saham minoritas. Data penting ini memudahkan penilaian kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba, membayar dividen, dan melakukan pengeluaran yang diperlukan untuk ekspansi di masa depan.
2. Bisnis Inti Justru Masih Kuat
Ada beberapa indikator yang menunjukkan mesin utama bank masih sehat:
Indikator Maret 2026 Catatan Laba bersih Rp299 miliar turun YoY Pendapatan bunga bersih (NII) Rp1,81 triliun naik 2,1% NIM 4,3% stabil Total kredit Rp121,99 triliun relatif stabil Dana pihak ketiga Rp118,35 triliun naik 6,1% CASA 61,2% membaik dari 53,0%
Pendapatan bunga bersih (NII) naik menjadi Rp1,81 triliun, menunjukkan bisnis intermediasi—menghimpun dana dan menyalurkan kredit—masih berjalan cukup baik. Margin bunga bersih (NIM) juga stabil di 4,3%, yang berarti profitabilitas kredit masih terjaga.
PATAMI (Profit After Tax and Minority Interest) sebesar Rp299 miliar pada Q1 2026 tidak datang dari satu sumber saja, tetapi merupakan hasil akhir dari rantai pendapatan bank: pendapatan bunga + fee based income – biaya operasional – pencadangan kredit – pajak – kepentingan non pengendali.
Berikut “Komponen pembentukan laba” Maybank Indonesia pada Maret 2026 (Q1/2026):
Komponen Pembentuk Laba Nilai Q1 2026 Pengaruh ke PATAMI Pendapatan bunga bersih (NII) Rp1,81 triliun Sumber laba terbesar Pendapatan non-bunga (NOII) Rp402 miliar Menambah pendapatan, tapi turun tajam Gross Operating Income (GOI) Rp2,22 triliun Total pendapatan operasional Beban operasional (±Rp1,70 triliun) Mengurangi laba PPOP (Laba operasional sebelum pencadangan) Rp523 miliar Laba inti sebelum risiko kredit Beban pencadangan kredit (CKPN) (Rp123 miliar) Dikurangi untuk antisipasi kredit macet Laba sebelum pajak (PBT) Rp397 miliar Laba sebelum pajak Pajak + kepentingan nonpengendali (±Rp98 miliar) Pengurang akhir PATAMI Rp299 miliar Laba bersih akhir
Angka-angka ini berasal dari rilis resmi Maybank Indonesia kuartal I/2026.
Dari mana sebenarnya uang Rp299 miliar itu berasal?
PATAMI Rp299 miliar pada Q1 2026 terutama berasal dari bisnis bunga kredit (NII Rp1,81 triliun), lalu diperkuat oleh efisiensi pendanaan (CASA naik) dan turunnya pencadangan kredit dengan variabel dari pos-pos laporan laba rugi.
Rumus dasarnya:
PATAMI = Pendapatan Operasional – Beban Operasional – CKPN – Pajak – Kepentingan Non pengendali
Tabel Rekonstruksi Matematis PATAMI Q1 2026
| Tahapan Perhitungan | Rumus Matematis | Nilai (Rp miliar) | Hasil Berjalan |
|---|---|---|---|
| 1. Pendapatan bunga bersih (NII) | — | 1.810 | 1.810 |
| 2. Pendapatan non-bunga (NOII) | + 402 | 402 | 2.212 |
| Gross Operating Income (GOI) | 1.810 + 402 | 2.212 | 2.212 |
| 3. Beban operasional | − 1.689 | (1.689) | 523 |
| PPOP | 2.212 − 1.689 | 523 | 523 |
| 4. Beban pencadangan kredit (CKPN) | − 123 | (123) | 400 |
| Penyesuaian lain (net) | − 3 | (3) | 397 |
| Laba sebelum pajak (PBT) | 523 − 123 − 3 | 397 | 397 |
| 5. Pajak penghasilan | − ±98 | (98) | 299 |
| PATAMI | 397 − 98 | 299 | 299 |
Penjelasan Tabel di atas:
1. Mesin utama laba: NII (Net Interest Income) Rp1,81 triliun
Penjelasan ;
Aktivitas Contoh Bunga kredit diterima Rp6,0 triliun Bunga deposito/tabungan dibayar (Rp4,19 triliun) Net Interest Income (NII) Rp1,81 triliun
Jadi Maybank menghasilkan uang terutama dari selisih bunga pinjaman dan biaya dana.
2. Pendapatan non-bunga Rp402 miliar
Sumbernya antara lain:
Sumber Fee Income Gambaran Trade finance biaya LC/impor-ekspor Wealth management komisi investasi Bancassurance (Produk kerjasama Bank dan asuransi) komisi asuransi Transfer & transaksi biaya administrasi Treasury/FX trading surat berharga & valas
Masalah di Q1 2026: treasury/global markets melemah, sehingga angka ini turun cukup besar dibanding tahun sebelumnya.
3. Beban operasional Rp1,689 triliun
Ini biaya menjalankan bank. Biaya operasional cukup tinggi karena menggunakan fasilitas perkantoran di kawasan strategis di kota-kota besar di Indonesia dan berbagai biaya lainnya yang menggunakan sumber daya manusia dan jaringan teknologi komunikasi perbankan-internet. Meskipun saat ini Maybank Indonesia sudah mulai menggunakan Solar Panel di beberapa gedungnya, tetapi masih dalam tahap pengembangan. Harapannya, dengan menggunakan Solar Panel kelak akan menghemat penggunaan listrik untuk operasional.
Komponen Estimasi Gaji & tunjangan pegawai besar IT & digital banking besar Cabang & operasional menengah Marketing & administrasi kecil-menengah
Secara kasar: (Gross Operating Income-Beban Operasional)= 2,212−1,689=523
Artinya laba operasional inti tersisa Rp523 miliar.
4. CKPN (cadangan kredit macet) Rp123 miliar
Bank harus menyisihkan uang untuk risiko gagal bayar kredit. Kalau kredit macet meningkat → CKPN naik → laba turun.
Q1 2026 justru lebih rendah karena kualitas kredit membaik. Hitungannya: Laba Operasional – Cadangan Kredit Macet. 523−123=400 miliar.
5. Pajak Mengurangi Rp98 miliar
Dari laba sebelum pajak-nilai pajak=397−98=299
Didapatah nilai PATAMI sebesar Rp. 299 Miliar.
Tarif efektif pajaknya sekitar: 98/397=24,7%
Masih normal untuk bank. Untuk komparasi pajak Maybank dengan bank lainnya di Indonesia adalah sebagai berikut ;
Mari bandingkan kisaran normal industri bank:
Jenis Bank ETR Umum Bank besar Indonesia 22–28% Bank dengan deferred tax tinggi bisa 30%+ Bank dengan insentif pajak bisa <22% Maybank 2026 24,7%
Visual sederhana aliran laba bersih Rp299 miliar
Pendapatan bunga bersih Rp1.810 M
Pendapatan non-bunga Rp 402 M
------------------------------
Total pendapatan Rp2.212 M
Beban operasional (Rp1.689 M)
------------------------------
Laba operasional Rp 523 M
Cadangan kredit macet (Rp 123 M)
Pos lain-lain (Rp 3 M)
------------------------------
Laba sebelum pajak Rp 397 M
Pajak (Rp 98 M)
------------------------------
PATAMI Rp 299 M
Kesimpulan Penting
Secara matematis terlihat jelas bahwa Rp299 miliar bukan berasal dari pertumbuhan kredit yang agresif, melainkan dari kombinasi pendapatan bunga yang masih stabil + penurunan pencadangan kredit (CKPN). Kalau CKPN kembali naik atau NII melemah, laba Maybank bisa lebih tertekan. Sebaliknya, bila fee income treasury pulih di semester II, PATAMI berpotensi membaik cukup signifikan
Kredit dan Simpanan
Kredit non-ritel CFS mencatat pertumbuhan sebesar 7,1% Y-o-Y menjadi Rp39,89 triliun ditopang oleh pertumbuhan kredit segmen komersial (Business Banking) sebesar 15,6% menjadi Rp17,46 triliun dan kredit segmen Small and Medium Enterprise (SME+) yang tumbuh 12,3%. Kredit segmen non-ritel SME (RSME) turun 3,0%.
Kredit ritel CFS tumbuh 4,1% Y-o-Y didukung pembiayaan otomotif anak usaha yang meningkat 7,4% serta kredit konsumer (kartu kredit dan KTA) yang tumbuh 6,7%. Kredit CFS ritel dan non-ritel tumbuh 5,4% menjadi Rp88,33 triliun.
Portofolio kredit korporasi Global Banking (GB) mencatat penurunan sebesar 12,4% Y-o-Y. Namun demikian, kredit segmen Large Local Corporate (LLC) GB dan transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) telah menunjukkan peningkatan dan dibukukan pada kuartal selanjutnya.
Pada Maret 2026, total kredit yang disalurkan tetap stabil sebesar Rp121,99 triliun dan total aset tercatat sebesar Rp192,17 triliun, naik 1,2% Y-o-Y.
Simpanan nasabah meningkat sebesar 6,1% Y-o-Y menjadi Rp118,35 triliun didorong pertumbuhan Giro sebesar 37,5%, sementara Tabungan turun sebesar 1,9%. Deposito berjangka turun 12,3%, sejalan dengan upaya Bank untuk memperkuat komposisi pendanaan dan mengoptimalkan biaya dana. Rasio CASA meningkat menjadi 61,2% pada Maret 2026 dari 53,0% pada Maret 2025.
Permodalan dan Likuiditas
Posisi permodalan Bank tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,3% dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 25,2%.
Likuiditas tetap sehat dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank-only sebesar 85,5%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) Bank-only sebesar 146,2%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) Bank-only sebesar 112,4%.
Perbankan Syariah
Total pembiayaan syariah tumbuh 10,4% Y-o-Y menjadi Rp32,23 triliun didukung pembiayaan Community Financial Services (CFS) dan Global Banking (GB) syariah. Pembiayaan syariah CFS meningkat 10,4% menjadi Rp23,16 triliun dan pembiayaan GB syariah tumbuh 10,3% menjadi Rp9,07 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan CFS non-ritel syariah ditopang oleh segmen SME+ dan Retail SME (RSME) yang tumbuh masing-masing sebesar 39,1% dan 6,0%. Pembiayaan ritel CFS syariah meningkat 12,5% menjadi Rp10,78 triliun yang didorong utamanya oleh pembiayaan properti yang tumbuh 14,7%. Sementara itu, pembiayaan korporasi segmen GB-LLC tumbuh 30,2% Y-o-Y.
Total pembiayaan syariah Maybank Indonesia berkontribusi sebesar 30,2% terhadap total portofolio pembiayaan Bank (Bank-only), sementara total aset Syariah menyumbang 24,5% terhadap total aset Bank (Bank-only).
Melalui Perbankan Syariah, Maybank Indonesia meluncurkan solusi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama di Indonesia. SRIA dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan investor tertentu dan ikut berpartisipasi dalam membiayai suatu badan usaha. Dalam pelaksanaannya, Bank bertindak sebagai arranger, dan hingga kini, outstanding transaksi SRIA telah mencapai Rp500 miliar.
Total simpanan Perbankan Syariah tumbuh 7,5% menjadi Rp35,50 triliun didukung oleh pertumbuhan Giro dan Tabungan (CASA) sebesar 28,8% Y-o-Y. Giro tumbuh 60,1% menjadi Rp14,22 triliun dan Tabungan tumbuh 1,5% menjadi Rp10,29 triliun. Deposito berjangka turun 21,5% Y-o-Y sejalan dengan upaya Bank dalam mengoptimalkan komposisi pendanaan. Rasio CASA meningkat menjadi 69,1% pada Maret 2026 dibandingkan 57,6% pada Maret 2025.
Kualitas aset membaik dengan Non-Performing Financing (NPF) sebesar 2,2% (gross) dan 1,5% (net) pada Maret 2026 dibandingkan 2,4% (gross) dan 1,7% (net) pada Maret 2025. Financing-to-Deposit Ratio (FDR) tercatat sebesar 85,4%.
Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) Perbankan Syariah meningkat 20,9% Y-o-Y didukung pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang naik 5,9% diiringi biaya dana yang menurun. Pendapatan operasional lainnya juga meningkat 18,1% Y-o-Y didorong pendapatan fee dari pembiayaan yang disalurkan dan transaksi reksa dana, khususnya, Shariah Wealth Management (SWM).
Beban pencadangan turun 69,8% Y-o-Y setelah Bank melakukan pre-emptive provisioning pada tahun sebelumnya dalam rangka menjaga kualitas aset. Pada kuartal pertama 2026, Perbankan Syariah membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp226 miliar, meningkat 52,1% Y-o-Y dibandingkan Rp149 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan kinerja Bank pada kuartal pertama 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar.
“Dalam kondisi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel dan non-ritel, korporasi (GB) termasuk Perbankan Syariah di tengah ketidakpastian yang berlangsung di sepanjang kuartal. Ke depan, kami akan terus berupaya dalam menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank serta, di saat yang sama, memperkuat bisnis inti sejalan dengan strategi ROAR30 Maybank Group.”
Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, mengatakan kinerja Bank pada kuartal pertama 2026 terdampak pada volatilitas pasar. “Dari segi arah bisnis, kami meyakini langkah memperkuat fundamental merupakan hal yang tepat sejalan dengan arah strategis ROAR30 yang telah kami canangkan di Maybank Group.”
Anak Usaha
PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance)
Total pembiayaan Maybank Finance meningkat 12,7% Y-o-Y menjadi Rp8,61 triliun. PBT meningkat 24,6% Y-o-Y menjadi Rp177 miliar. Kualitas aset tetap terjaga dengan NPL sebesar 0,3% (gross) dan 0,1% (net) pada Maret 2026 dibandingkan 0,2% (gross) dan 0,1% (net) pada Maret 2025.
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance)
Total pembiayaan WOM Finance naik 7,4% Y-o-Y menjadi Rp6,70 triliun. PBT tercatat menurun sebesar 58,1% Y-o-Y menjadi Rp33 miliar sehubungan pencadangan. Rasio NPL WOM tetap stabil pada level 2,2% (gross) dan 1,0% (net) pada Maret 2026 dan Maret 2025.
SON
Catatan;
Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) adalah selisih antara pendapatan yang dihasilkan bank dari aset berbunga (seperti pinjaman dan hipotek) dan biaya bunga yang dibayarkan atas kewajibannya (seperti simpanan nasabah).
CASA (Current Account Savings Account) adalah istilah perbankan yang merujuk pada himpunan dana murah dari rekening giro dan tabungan. Dana ini disebut "murah" karena bank membayar bunga yang jauh lebih rendah dibandingkan deposito, sehingga efisien untuk menekan biaya operasional
CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) adalah dana atau penyisihan yang wajib disisihkan oleh bank untuk mengantisipasi potensi kerugian akibat penurunan nilai aset keuangan, seperti kredit macet atau investasi surat berharga yang gagal bayar.
Laporan keuangan Maybank bisa diakses di https://www.maybank.co.id/corporateinformation/InvestorRelation/FinancialInformation/FinancialReport


















