JIFMAC 2026
IHFI
IHFI
BeritaEdukasiUmum

GISLI dan Polairud Gunungkidul Perkuat Edukasi Keselamatan Nelayan Pesisir Selatan

×

GISLI dan Polairud Gunungkidul Perkuat Edukasi Keselamatan Nelayan Pesisir Selatan

Share this article
IFMAC 2026

Gunungkidul (DIY), SURYAPOS.id – Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memiliki wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kondisi tersebut membuat aktivitas nelayan tradisional di wilayah pesisir selatan memiliki risiko kecelakaan laut yang perlu diantisipasi.

Upaya meningkatkan keselamatan sekaligus mendukung ketahanan ekonomi keluarga nelayan dilakukan melalui edukasi keselamatan melaut dan pengolahan hasil tangkapan. Hal itu menjadi bagian dari perhatian terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir.

IFMAC 2026

Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI) bekerja sama dengan Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polres Gunungkidul menggelar pembekalan safety briefing bagi nelayan pesisir selatan Gunungkidul. Kegiatan tersebut berlangsung di Pantai Baron, Gunungkidul, Selasa (29/9/2026).

Baca juga: Dari Hargomulyo hingga Girisubo, FKPM 23 Panggungsari Salurkan 62 Tangki Air Bersih

Perwakilan GISLI, Orima Melati Davey, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya keselamatan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga pesisir melalui program Fisherwomen as Agents of Change (FAOC) 2.

Menurut Orima, keselamatan nelayan tetap menjadi fokus utama program FAOC. Namun, keterlibatan perempuan dalam keluarga nelayan juga dinilai penting untuk memastikan kebiasaan keselamatan diterapkan sebelum nelayan berangkat melaut.

“Yang kita promosikan tetap keselamatan dan keamanan nelayan. Namun, praktiknya kami juga menggerakkan ibu-ibu sebagai pengingat keselamatan. Sebelum melaut, mereka bisa mengingatkan, misalnya jangan lupa menggunakan jaket keselamatan dan memastikan perlengkapan lainnya,” ujar Orima.

Baca juga: Etalase Berisi Rokok Senilai Rp30 Juta Dicuri, Polsek Ponjong Identifikasi Pelaku

Orima mengatakan perempuan nelayan dapat berperan sebagai safety reminder atau pengingat keselamatan bagi suami, anak, maupun anggota keluarga yang bekerja sebagai nelayan. Dengan demikian, keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab nelayan ketika berada di laut, tetapi juga menjadi perhatian keluarga sejak sebelum keberangkatan.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Perairan dan Udara (Kasat Polairud) Polres Gunungkidul AKP Wawan Anggoro Cahyo, S.H., menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama bagi nelayan. Menurut dia, keselamatan diri di laut lebih penting dibandingkan hasil tangkapan.

“Keselamatan melaut itu sangat utama, dimulai dari kesiapan melihat cuaca. Kemudian kesiapan kapal, baik kondisi kapal, surat-surat kapal, maupun kondisi mesin. Nelayan juga wajib membawa jaket pelampung, ring buoy yang sangat membantu untuk menyelamatkan orang, serta senter atau peluit dan P3K,” kata Wawan di sela kegiatan pembekalan safety briefing bersama GISLI di Pendopo Pantai Baron.

Baca juga: Pencuri Pompa Sibel di Karangmojo Ditangkap, Akui Beraksi di Banyak Lokasi

Wawan mengatakan perhatian terhadap keselamatan semakin penting karena aktivitas nelayan Gunungkidul berlangsung di perairan Samudra Hindia yang memiliki karakteristik dan risiko tersendiri.

“GISLI ini menekankan keselamatan. Jadi, apa yang diperlukan dan dikhususkan atau ditekankan kepada nelayan harus dipenuhi, seperti pelampung, senter, suar atau peluit, serta bagaimana tanggap darurat di atas kapal ketika terjadi kecelakaan laut atau kejadian yang tidak diinginkan,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, nelayan juga dapat menjadi pihak yang cepat memberikan pertolongan ketika terjadi kecelakaan di laut karena mereka berada di wilayah perairan dan memiliki kapal yang dapat digunakan untuk membantu nelayan lain.

Baca juga: Kebakaran Toko Batik di Margo Mulyo Yogyakarta, Api Muncul dari Dapur Lantai 3

“Nelayan itu orang yang paling cepat pada saat pertolongan. Selain ada SAR dan kami dari kepolisian, nelayan sudah siap dengan kapal berada di tengah laut. Karena itu, mereka harus membawa peralatan seperti suar, peluit, ataupun alat komunikasi sehingga nelayan terdekat mengetahui dan dapat melakukan penyelamatan,” imbuhnya.

Wawan menyambut positif kegiatan GISLI karena edukasi yang diberikan tidak hanya menyasar nelayan, tetapi juga keluarga nelayan, khususnya para istri. Selain berperan dalam mengingatkan keselamatan, para istri nelayan juga dapat terlibat dalam pengolahan dan pemanfaatan hasil tangkapan untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil laut.

“Ini sangat membantu karena tidak hanya sasarannya nelayan, tetapi juga istri-istri nelayan. Ada penguatan berkaitan dengan UMKM dan produksi makanan olahan yang berasal dari hasil tangkapan para nelayan,” kata Wawan.

IFMAC 2026
IHFI
IFMAC 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IKIAE