Yogyakarta (04/06/2026). Keberhasilan para alumni tidak hanya terlihat dari pencapaian dalam karier, tetapi juga dari sumbangsih yang mereka berikan untuk menciptakan peluang bagi generasi mendatang. Semangat tersebut ditunjukkan oleh Bogat Agus Riyono, seorang alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), melalui inisiatif pemberian beasiswa yang terhubung dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta.
Bogat, yang lulus dari Jurusan Akuntansi FEB UGM tahun 1983, saat ini menjabat sebagai CEO PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama dengan CEO Saraswanti Group, Hari Hardono dari Fakultas Pertanian angkatan 1981, ia mengembangkan Mataram City sebagai area tempat tinggal vertikal dan fasilitas penginapan yang menjadi salah satu titik pertumbuhan terbaru di Yogyakarta.
Namun, di balik pengembangan bisnis tersebut, ada komitmen untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan melalui dukungan terhadap pendidikan tinggi.Melalui kolaborasi antara SWID dan Universitas Gadjah Mada, perusahaan berkomitmen untuk mendistribusikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti dan pemanfaatan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di hotel-hotel yang dimiliki SWID bagi komunitas akademik UGM.
“Sebagai wujud nyata dukungan terhadap pendidikan, kolaborasi ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif lewat program beasiswa. Dana yang terkumpul akan dijadikan satu dan disalurkan setiap tahun untuk membantu mahasiswa UGM,” jelasnya dalam wawancara pada Kamis (4/6/2026).
Selain beasiswa, kerjasama ini juga memberikan banyak keuntungan bagi komunitas UGM, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga, hingga jaringan alumni. Komunitas UGM dapat menikmati diskon khusus untuk reservasi kamar hotel dan harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikelola oleh SWID.
“Bagi kami, kolaborasi dengan UGM adalah bentuk nyata dari bakti kepada almamater. UGM telah memberikan banyak bekal dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan mental yang diperlukan untuk bersaing dalam dunia usaha serta kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, UGM dapat dikatakan sebagai pengubah nasib kami menjadi individu yang lebih berdaya dan berguna. Kini adalah saatnya bagi kami untuk memberikan kontribusi kembali,” ungkap Bogat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA.
Bagi Bogat, inisiatif ini bukan hanya tentang tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi juga merupakan ungkapan rasa terima kasih kepada almamater yang telah mendukungnya secara fundamental dalam hidup. Ia menyatakan bahwa kontribusi ini merupakan sebuah panggilan hati. Komitmen ini berasal dari pengalaman pribadinya selama belajar di UGM.
Menghabiskan waktu kuliah di Gedung Pusat UGM, Bogat mengenang bagaimana lingkungan kampus membentuk kepribadiannya. Ia percaya, masa studi yang tergolong panjang pada saat itu justru menciptakan persaudaraan yang kuat di antara mahasiswa. Mereka tidak hanya mengenal teman seangkatan, tetapi juga menjalin kedekatan dengan mahasiswa dari angkatan yang berbeda. Kenangan tersebut menciptakan rasa persatuan yang tetap terpelihara bertahun-tahun setelah kelulusan.
“Dulu, masa kuliah cukup lama, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun, justru periode itulah yang menguatkan ikatan persaudaraan di antara kami. Bayangkan, kami bisa saling kenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya. Keterikatan emosional yang mendalam dengan universitas tersebut menjadi alasan lahirnya program beasiswa yang saat ini dilaksanakan melalui SWID. Menurutnya, pencapaian yang diperoleh oleh lulusan tidak terlepas dari kontribusi pendidikan serta suasana kampus yang telah memberikan peluang untuk tumbuh.
Program ini juga menunjukkan betapa kolaborasi antara sektor bisnis dan institusi pendidikan dapat membawa keuntungan yang berkelanjutan. Setiap aktivitas bisnis tidak hanya menghasilkan nilai ekonomis, tetapi juga memberikan dampak positif pada peningkatan akses pendidikan bagi para mahasiswa.
Saat ditanyakan mengenai pentingnya solidaritas terhadap almamater, Bogat menyampaikan pesan kepada seluruh alumni UGM untuk terus menjaga semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas komunitas UGM.”Selalu pertahankan semangat untuk saling mendukung, hidup harmonis, dan selalu memberikan manfaat bagi sesama serta almamater yang kita cintai,” pesannya.
Semangat Guyub, Rukun, Migunani dalam kolaborasi ini menunjukkan bahwa kontribusi alumni dapat hadir dalam berbagai cara, termasuk melalui model filantropi yang digabungkan dengan kegiatan bisnis. Dengan langkah ini, alumni FEB UGM tidak hanya berperan dalam pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu membuka peluang bagi generasi berikutnya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Inisiatif yang diusung oleh Bogat Agus Riyono menjadi contoh bagaimana hubungan antara alumni dan almamater dapat menghasilkan dampak yang signifikan. Ketika keberhasilan profesional digabungkan dengan perhatian terhadap pendidikan, manfaatnya akan dirasakan tidak hanya oleh universitas, tetapi juga oleh masyarakat dan generasi mendatang.
SON
