Berita

Saatnya Golden Ticket JIKF 2026 Diperebutkan Peserta Pelayang Terpilih

Yogyakarta(03/07/2026)– Rangkaian Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 secara resmi dimulai dengan pelaksanaan JIKF Golden Ticket Selection yang berlangsung di Lapangan Tayuban, Pantai Banaran, Galur, Kulon Progo, pada hari Sabtu (4/7).

Kegiatan ini berfungsi sebagai ajang seleksi bagi pelayang daerah yang ingin meraih Golden Ticket untuk berpartisipasi dalam kompetisi nasional di puncak JIKF 2026 yang dijadwalkan di Pantai Parangkusumo, Bantul, pada 11–12 Juli 2026. Kompetisi ini merupakan langkah awal untuk memberikan kesempatan kepada pelayang daerah dalam menunjukkan penguasaan mereka sekaligus mendorong peningkatan kualitas kompetisi layang-layang tradisional Indonesia.

Selain peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta, acara ini juga diikuti oleh pelayang dari 17 negara yang turut meriahkan dan semarakkan acara hari ini.Pada hari pertama, penyelenggara mengadakan dua kategori lomba, yaitu layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi. Sebanyak 17 layang-layang diterbangkan, terdiri dari 11 peserta pada kategori tradisional dan 6 peserta di kategori kreasi.

Setiap layang-layang peserta diterbangkan secara bergiliran sesuai dengan pembagian kloter dan titik awal yang telah ditentukan oleh panitia untuk memastikan proses penjurian berjalan tertib, aman, dan adil.Kategori tradisional menampilkan berbagai karya khas daerah seperti Mandala Berwarna, Batik Ing Ngayogya, Kembang Lintang, Owel, Wijaya Kusuma, hingga Punokawan Gank. Di sisi lain, kategori kreasi memperlihatkan desain yang lebih inovatif melalui karya seperti Anoman, Drum, Dasamuka 2D, Burung Bido, Whell Kite, dan Kencana Langit.

Ketua Panitia Jogja International Kite Festival 2026, Anang Sarjiyanto, menyampaikan bahwa Golden Ticket Selection adalah upaya untuk meningkatkan potensi pelayang daerah agar bisa mendapatkan kesempatan berkompetisi di tingkat nasional serta merasakan suasana festival internasional.”Melalui Golden Ticket Selection, kami ingin memberikan peluang kepada pelayang daerah untuk bertanding pada tingkat nasional. Kami berharap mereka dapat meningkatkan rasa percaya diri, terus berkembang, dan mampu bersaing di tingkat internasional,” ujar Anang.Ia menambahkan, pelaksanaan seleksi tingkat daerah juga berfungsi sebagai bagian dari pembinaan komunitas layang-layang. Ia berharap kompetisi ini dapat melahirkan generasi baru pelayang dan sekaligus memperkenalkan standar kompetisi nasional kepada komunitas lokal.

Penilaian dilakukan oleh panel juri dalam dua tahap, yaitu penilaian konstruksi layang-layang di darat dan penilaian performa saat terbang. Aspek yang diperhatikan meliputi kualitas rangka, tingkat kesulitan dalam pembuatan, komposisi warna, kestabilan saat terbang, karakter suara, serta kesesuaian bentuk dengan tema yang diusung oleh peserta.Di samping menjadi ajang kompetisi, penyelenggaraan Golden Ticket Selection juga mendapatkan dukungan dari berbagai instansi untuk memastikan festival berjalan dengan aman dan tertib. PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Salatiga yang dipimpin oleh Team Leader Gardu Induk Wates melakukan koordinasi dengan panitia demi memastikan lokasi penerbangan berada di area yang aman dan terjauh dari jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV.

Diketahui, lokasi kegiatan di Pantai Banaran terletak sekitar enam kilometer dari jalur transmisi sehingga dinilai aman untuk aktivitas penerbangan layang-layang. Kerjasama ini juga dimanfaatkan untuk memberikan edukasi keselamatan terkait ketenagalistrikan kepada masyarakat. Dalam festival ini, PLN mengajak warga untuk menerbangkan layang-layang di area terbuka yang jauh dari jaringan listrik guna menjaga keamanan sekaligus mencegah gangguan terhadap penyediaan listrik.

Dukungan serupa juga datang dari AirNav Indonesia Cabang Yogyakarta. Sebagai penyelenggara yang bertanggung jawab atas layanan navigasi penerbangan, AirNav telah melakukan penilaian terhadap ruang udara dan bekerja sama dengan panitia untuk pelaksanaan festival penerbangan layang-layang di area Banaran dan Parangkusumo. Langkah ini diambil mengingat lokasi acara tidak jauh dari area operasional Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Melalui kerja sama ini, festival dianggap telah memenuhi standar keselamatan penerbangan. AirNav juga mengapresiasi dedikasi panitia yang secara aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak sehingga kegiatan budaya ini dapat dilakukan selaras dengan keselamatan ruang udara.

Di samping itu, festival ini diharapkan memberikan kontribusi positif untuk sektor pariwisata, pemberdayaan UMKM lokal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keselamatan saat menerbangkan layang-layang. Semangat peserta sangat terlihat selama berlangsungnya perlombaan. Salah satu contohnya adalah Kindar, wakil dari Candimulyo, Magelang, yang ikut serta dalam kategori tradisional dengan layang-layang bernama Kembang Lintang. Layang-layang itu dipersiapkan selama lebih dari 20 hari menggunakan rangka bambu berkualitas tinggi dan memiliki tingkat kerumitan tinggi pada motif polkadot dengan penyetelan khas layang-layang mancungan Yogyakarta.

“Saya berpartisipasi bukan hanya untuk mengejar gelar juara, tetapi juga untuk menambah teman dan pengalaman. Saya berharap acara seperti ini dapat berlanjut agar para pelayang semakin percaya diri dalam mengekspresikan kreativitas mereka. Mengenai hasil, saya anggap itu sebagai bonus,” kata Kindar. Suasana festival semakin meriah dengan hadirnya 35 pelayang internasional dari 17 negara yang turut menerbangkan layang-layang di langit Banaran. Kehadiran mereka menjadi simbol pertukaran budaya dan semakin memperkuat posisi JIKF sebagai festival layang-layang yang berskala internasional.

Salah satu peserta asal Amerika Serikat, Renne Matthew dari Massachusetts, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan festival serta keramahan masyarakat Indonesia. Ia mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya setelah mendapat rekomendasi dari temannya yang sudah beberapa kali mengikuti JIKF. “Ini adalah kunjungan pertama saya ke Indonesia dan saya sangat bahagia berada di sini. Orang-orangnya sangat ramah, penyelenggara memperlakukan kami dengan baik, dan festivalnya sangat terorganisir. Saya berharap bisa kembali tahun depan,” ujarnya.

Selain adanya kompetisi, para delegasi internasional juga dijadwalkan untuk mengunjungi berbagai tempat budaya dan wisata di Yogyakarta sebagai bagian dari program pertukaran budaya yang menjadi ciri khas Jogja International Kite Festival setiap tahunnya.Melalui Golden Ticket Selection, JIKF 2026 tidak hanya menjadi platform untuk menemukan wakil terbaik menuju kompetisi nasional, tetapi juga sebagai sarana pelatihan, pelestarian budaya, edukasi tentang keselamatan, serta memperkuat hubungan antarbangsa melalui seni layang-layang. Para pemenang seleksi daerah akan berpartisipasi dalam acara utama Jogja International Kite Festival 2026 di Pantai Parangkusumo bersama dengan puluhan pelayang dari 17 negara, sekaligus memperkenalkan budaya layang-layang Indonesia kepada dunia.

SON

Exit mobile version