Gunungkidul (DIY), SURYAPOS.id – Dalam rangka memperingati Lustrum IV atau 20 tahun berdirinya, Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor menggelar tirakatan dan kenduri doa bersama lintas iman di Pendopo Santo Matius, Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (1/8/2026) malam.
Kegiatan tersebut dihadiri Panewu Karangmojo Emmanuel Krisna Juwoto, Danramil Karangmojo, Kapolsek Karangmojo, Lurah Kelor Suratman beserta jajaran Pemerintah Kalurahan Kelor.
Baca juga: Diduga Kurang Konsentrasi, Dua Sepeda Motor Bertabrakan di Gading Playen, Mahasiswi Meninggal
Selain itu, acara juga dihadiri Staf Ahli Bupati Gunungkidul Bidang Hukum, Pemerintahan, dan Politik Johan Eko Sudarto, S.Sos., M.H., yang mewakili Bupati Gunungkidul, serta sejumlah tokoh lintas agama.
Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Johan Eko Sudarto, Bupati Gunungkidul menyampaikan ucapan selamat kepada keluarga besar Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor atas peringatan Lustrum IV. Ia juga menegaskan bahwa kenduri lintas agama menjadi ruang kebersamaan yang menunjukkan bahwa kerukunan bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Empat Orang Terluka dalam Kecelakaan Beruntun Tiga Sepeda Motor di Paliyan
“Kenduri merupakan warisan budaya Nusantara yang sarat makna. Di dalamnya terkandung nilai syukur, kebersamaan, kesetaraan, gotong royong, dan saling menghormati. Ketika seluruh elemen masyarakat duduk bersama tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang, sesungguhnya kita sedang merawat modal sosial yang sangat berharga bagi kemajuan Gunungkidul,” demikian kutipan sambutan Bupati Gunungkidul yang dibacakan Johan Eko Sudarto.
Dalam sambutan tersebut, Bupati juga menyampaikan bahwa Gunungkidul patut bersyukur karena selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan umat beragama. Menurutnya, kondisi yang harmonis tersebut tidak hadir dengan sendirinya, melainkan merupakan buah dari komitmen seluruh elemen masyarakat untuk terus membangun dialog, saling menghormati, dan menjaga persaudaraan.
Sementara itu, Romo Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor, Markus Januarta, Pr., mengatakan tema Lustrum IV, “(M)Urup (Me)Nyala”, dimaknai sebagai perubahan dari sikap pasif menjadi aktif. Tema tersebut mengandung harapan agar umat mampu membuka berbagai sekat atau tembok pembatas sehingga iman yang dimiliki semakin berkobar dan membawa dampak nyata bagi sesama.
“Kita diingatkan pada ajaran Tuhan bahwa iman tanpa tindakan nyata dalam perbuatan baik dan mulia pada dasarnya adalah iman yang mati. Karena itu, iman bukan hanya gerakan ke dalam diri, tetapi juga harus diwujudkan melalui gerakan keluar, yakni membangun persaudaraan yang pada akhirnya melahirkan bela rasa kepada sesama,” ujar Romo Markus Januarta yang akrab disapa Romo Nanung.
Romo Nanung menambahkan, iman yang menyala harus menjadi semangat untuk mengutamakan persaudaraan di tengah keberagaman.
Baca juga: Dua Remaja Ditangkap usai Jambret Tas Pesepeda di Jembatan Kabanaran Bantul
“Kami ingin bersahabat dengan banyak orang. Malam ini kita duduk bersama dan berdoa dalam kenduri lintas iman sebagai bukti bahwa iman harus menghasilkan buah melalui persaudaraan,” tuturnya.
Rangkaian peringatan Lustrum IV Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor tidak hanya diisi dengan doa bersama lintas iman. Pada Minggu (2/8/2026), panitia juga akan menggelar pagelaran wayang kulit sebagai bagian dari perayaan sekaligus pelestarian budaya.
