Gunungkidul (DIY), SURYAPOS.id – Tradisi rasulan dinilai bukan sekadar bentuk syukur masyarakat atas hasil panen dan kehidupan, tetapi juga menjadi sarana menjaga persatuan serta melestarikan budaya warisan leluhur.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD DIY, Suharno, SE., saat membuka pagelaran wayang kulit dalam rangka rasulan Padukuhan Pakrandu, Kalurahan Gombang, Kapanewon Ponjong, Rabu (20/5/2026) malam.
Menurut Suharno, Kabupaten Gunungkidul hingga kini masih konsisten mempertahankan tradisi dan adat istiadat peninggalan nenek moyang yang menjadi bagian dari keistimewaan Yogyakarta.
“Rasulan ini selain menjadi ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diberikan Tuhan dan alam semesta kepada kita, juga menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi budaya warisan nenek moyang. Melalui rasulan, perbedaan dapat disatukan dalam persatuan,” kata Suharno di hadapan warga Padukuhan Pakrandu.
Baca juga: Korsleting Diduga Picu Kebakaran Rumah di Bantul, Api Baru Padam Setelah 1,5 Jam
Dalam kegiatan tersebut, Suharno hadir bersama putrinya, Silvia Mega Herminanda Putri yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul.
Ia mengajak masyarakat Kalurahan Gombang untuk terus mempertahankan tradisi rasulan sebagai identitas budaya daerah.
“Jaga tradisi ini, karena hanya Kabupaten Gunungkidul yang masih kuat mewarisi adat dan tradisi nenek moyang. Di kabupaten lain di Yogyakarta, tradisi seperti ini sudah tidak banyak dijumpai,” ujarnya.
Senada dengan Suharno, Silvia Mega Herminanda Putri mengapresiasi masyarakat yang tetap melestarikan budaya rasulan, termasuk mempertahankan kesenian tradisional dalam rangkaian kegiatannya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Mega itu, keberadaan pagelaran wayang kulit menjadi identitas budaya bangsa di tengah arus modernisasi dan digitalisasi.
Baca juga: Diduga Lakukan Provokasi, Sekelompok Pelajar Berseragam Corat-coret Kabur saat Polisi Datang
“Wayang kulit bukan hanya pertunjukan, tetapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan dalam setiap lakonnya. Ini merupakan warisan budaya yang lahir dari cipta, karsa, dan rasa nenek moyang kita,” kata Mega.
Ia juga menyoroti tingginya peradaban leluhur Nusantara yang tercermin melalui seni gamelan dengan harmoni nada pelog dan slendro dalam pertunjukan wayang kulit.
Baca juga: Tekan Klitih dan Tawuran, Polres Bantul Minta Orang Tua Jemput Anak Sebelum 22.00 WIB
“Hal itu menunjukkan tingginya peradaban nenek moyang kita. Karena itu, generasi sekarang sudah sepatutnya terus melestarikan budaya peninggalan leluhur,” ujarnya.
Dalam pagelaran wayang kulit tersebut, dalang Ki Supomo Suryo Guritno membawakan lakon “Wahyu Puspo Manunggal”.
Baca juga: Kecelakaan di Bunder Patuk, Dua Perempuan Pengendara Motor Alami Luka
Sementara itu, Lurah Gombang, Supriyanto mengaku bangga rasulan tahun ini dihadiri dua anggota DPRD lintas generasi yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Duo Mega-Harno”.
“Rasulan tahun ini sangat berkesan bagi saya dan masyarakat Padukuhan Pakrandu karena dihadiri dua anggota DPRD lintas generasi. Saya sangat berterima kasih atas kehadiran beliau berdua,” kata Supriyanto.
