BeritaKesehatanPendidikan

22 Mahasiswa Universitas Aisyiyah (UNISA) Keracunan Makanan Saat Mengikuti Program ECE di RSJ Ghrasia Yogyakarta

0-0x0-0-0#

Yogyakarta, SURYAPOS.id – Sebanyak 22 mahasiswa dari Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas ’Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta diduga terkena keracunan makanan setelah menyantap snack dalam kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia Yogyakarta.

Hingga hari Senin (5/1/2026), 20 dari mereka sudah diperbolehkan pulang dalam keadaan sehat, sedangkan dua mahasiswa masih dirawat di rumah sakit.

dr. Akhmad Akhadi, Direktur RSJ Grhasia

Direktur RSJ Grhasia Yogyakarta, Akhmad Akhadi, menjelaskan bahwa penyelidikan mengenai penyebab kejadian ini masih berlangsung dan rumah sakit belum menetapkan siapa yang bertanggung jawab sampai hasil analisis laboratorium resmi diterima dari pihak berwenang.

Baca juga: Di Bawah Kepemimpinan Prof. Zudan, Penerapan Manajemen Talenta ASN Meningkat 188 Persen

“Insiden ini terjadi selama kegiatan ECE mahasiswa keperawatan UNISA Yogyakarta angkatan ke-7 yang berlangsung dari 28 hingga 29 Desember 2025. ECE adalah bagian dari proses pembelajaran yang berfokus pada pelayanan kesehatan, di mana mahasiswa diberikan pengalaman langsung mengenai layanan rumah sakit, baik untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap,” kata Akhmad pada hari Senin (5/1/2026).

Akhmad menjelaskan bahwa pada Senin (29/12/2025), mahasiswa yang mengikuti ECE menerima snack yang disiapkan oleh RSJ Grhasia. Paket snack tersebut terdiri dari risoles mayo, tahu sarang burung dan kue pisang, yang diproduksi oleh sebuah perusahaan catering dengan inisial CB, sebuah UMKM yang berlokasi di Sleman dan terdaftar di sistem pengadaan elektronik pemerintah (MBiz).

Namun pada malam harinya, RSJ Grhasia mendapat laporan tentang adanya mahasiswa yang mengalami masalah kesehatan seperti mual, muntah, diare, demam, dan pusing. Waktu keluhan ini muncul berbeda-beda pada setiap mahasiswa, mulai dari sore, malam, hingga dini hari berikutnya.

Baca juga: ATM di Alfamart Tepus Dibobol, Plafon Dijebol Pelaku, Kerugian Tembus Rp150 Juta

“Menanggapi laporan tersebut, RSJ Grhasia segera melakukan tindakan cepat sesuai prosedur operasional standar (SOP) pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Tindakan yang diambil termasuk memberikan pelayanan medis secara cepat dan profesional, baik untuk rawat jalan maupun rawat inap tergantung dari indikasi medis,” ungkapnya.

Selanjutnya, dilakukan penjemputan serta pemeriksaan terhadap mahasiswa yang berada di luar rumah sakit. Mereka juga berkoordinasi secara internal dengan tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) serta Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS).

“Kami juga sudah melakukan koordinasi eksternal dengan Dinas Kesehatan dan Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Dinas Kesehatan DIY, serta mengamankan sisa makanan yang belum dimakan untuk keperluan pemeriksaan lanjutan, sambil terus berkomunikasi dengan pihak UNISA Yogyakarta mengenai kondisi mahasiswa,” jelas Akhmad.

Baca juga: Melaju dari Wonosari ke Jogja, Pikap Terjun ke Sungai di Km 25 Patuk

Akhmad melaporkan bahwa dari total 22 mahasiswa yang terdampak, langsung mendapatkan perawatan inap di beberapa rumah sakit, 20 di antaranya sudah dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang.

“Distribusi perawatan mahasiswa sebelumnya adalah sebagai berikut: di RSJ Grhasia terdapat 9 mahasiswa, di RS Queen Latifa ada 8 mahasiswa, di RS PKU Muhammadiyah Gamping ada 2 mahasiswa, di RS Condongcatur ada 1 mahasiswa, dan di RS Sakina Idaman ada 1 mahasiswa,” paparnya.

Hingga Senin (5/1/2026), dua mahasiswa masih mendapatkan perawatan inap, satu di RS PKU Muhammadiyah Gamping dan satu di RS Sakina Idaman.

Baca juga: Natal Bersama Danlanal Yogyakarta, Prajurit Diajak Perkuat Pengabdian

Meskipun belum ada kesimpulan yang resmi, Akhmad menyatakan bahwa secara epidemiologis dan klinis, makanan yang mengandung mayones adalah salah satu yang paling rentan terhadap masalah dalam penyimpanan dan pengelolaan.

Berdasarkan penyelidikan awal, risoles mayo diproduksi pada hari Minggu (28/12/2025), lalu disimpan dalam freezer karena baru dikirim keesokan harinya. Pada Senin dini hari (29/12/2025), risoles tersebut digoreng dan sekitar pukul 08. 00 WIB sudah sampai di RSJ Grhasia.

“Namun, ini masih merupakan dugaan awal. Kami masih menunggu hasil dari pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebabnya,” tegas Akhmad.

Baca juga: Peta Dukungan Mulai Terbaca, Kader 14 Kapanewon Golkar Gunungkidul Dukung Gunawan

RSJ Grhasia telah mengirimkan contoh makanan sisa, muntahan, dan tinja mahasiswa ke BLKK Dinas Kesehatan DIY. Proses pemeriksaan mikrobiologi memerlukan waktu setidaknya tujuh hari karena harus melalui tahap pertumbuhan.

“Hasil dari laboratorium dijadwalkan akan keluar pada hari Rabu. Jika ditemukan kesamaan mikroorganisme antara makanan dan sampel klinis mahasiswa, maka dugaan penyebab dapat ditetapkan,” tambahnya.

RSJ Grhasia telah mengundang pihak penyedia makanan untuk memberikan klarifikasi. Bahkan, anggota keluarga dari penyedia yang sama juga dilaporkan menunjukkan gejala serupa setelah mengonsumsi makanan tersebut.

“Sebagai bentuk tanggung jawab, penyedia makanan bersedia untuk menanggung biaya perawatan yang tidak ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan, menanggung biaya pemeriksaan laboratorium, dan memberikan dukungan pemulihan kepada korban secara moral dan kekeluargaan, bukan dalam aspek hukum,” kata Akhmad.

Akhmad menekankan bahwa semua informasi resmi mengenai kasus ini akan disampaikan melalui satu saluran, yaitu Direktur dan Wakil Direktur Pelayanan RSJ Grhasia, Trisunu Handayani, untuk mencegah kebingungan informasi di masyarakat.

Baca juga: Remaja di Bantul Jadi Korban Penganiayaan di Simpang Dawetan

“Kami mengimbau agar semua pihak menunggu hasil pemeriksaan resmi dari instansi terkait. Prioritas utama kami adalah keselamatan dan pemulihan kesehatan mahasiswa,” tegas Akhmad.

Dekan FIKES UNISA Yogyakarta, Dewi Rokhanawati, menyatakan bahwa 40 mahasiswa mengikuti ECE gelombang ke-7. Namun, tidak semua mengalami masalah kesehatan.

“Ada mahasiswa yang hanya mengonsumsi snack sedikit, ada yang dibawa pulang, dan ada juga yang tetap dalam keadaan sehat. Respons tubuh setiap mahasiswa berbeda, kami memastikan pemantauan kondisi mahasiswa dilakukan secara terus-menerus selama 24 jam, dan selalu berkoordinasi secara intensif dengan RSJ Grhasia serta rumah sakit lainnya yang ditunjuk,” ujarnya.

SON

Exit mobile version