Suryapos

Penerapan Pembiayaan Hijau dan Berkelanjutan pada Maybank Indonesia

Jakarta, Suryapos –Namanya Darwin Sidi Alsaud, seorang pengusaha di bidang bengkel reparasi mobil yang tinggal di daerah Pedurenan Bekasi. Darwin juga seorang penyandang disabilitas. Kakinya terkena polio sejak lahir sehingga ia kesulitan berjalan sejak kecil. Namun keterbatasan fisik tidak membuatnya menyerah. Setelah menyelesaikan pendidikan keterampilan montir mobil di Rehabilitations Centrum (RC) dr Soeharso di Solo, ia memberanikan diri merantau ke Jakarta.

“Selama 3 bulan pertama di Jakarta, saya belum mendapatkan pekerjaan tetap. Tidak punya uang dan  akhirnya saya bisa bekerja di perusahaan garmen,” jelas Darwin saat sesi wawancara. Darwin juga menjelaskan bahwa modal untuk mendirikan bengkelnya berasal dari hasil penjualan mobil miliknya. Tidak butuh waktu lama bagi bengkelnya untuk mendapatkan sejumlah pelanggan. Saat ini, ia sudah mempekerjakan tiga orang karyawan yang bertugas untuk memperbaiki bodi kendaraan hingga melakukan perbaikan bagi kendaraaan yang mengalami masalah mesin.

Darwin Sidi Alsaud

Pada 2017, Darwin mengikuti program  RISE yang diselenggarakan oleh Maybank.  Program R.I.S.E (Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship) adalah inisiatif tanggung jawab sosial (CSR) dari Maybank Foundation untuk memberdayakan penyandang disabilitas dan masyarakat prasejahtera agar mandiri secara finansial. Program ini membekali peserta dengan keterampilan kewirausahaan, literasi keuangan, dan pendampingan bisnis.

Program ini terbagi menjadi beberapa komponen utama, antara lain Lokakarya (Workshop), Pelatihan intensif terkait kewirausahaan dan manajemen keuangan, Pendampingan (Mentorship) berupa bimbingan usaha selama 3 hingga 6 bulan pasca pelatihan dan pemantauan kinerja dan pelaporan perkembangan usaha peserta. Sejak diluncurkan, program ini telah membantu ribuan peserta di Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Data pemantauan dari Maybank, banyak peserta berhasil meningkatkan pendapatan bulanan mereka secara signifikan dan mengembangkan usaha menjadi lebih mandiri.

Memahami Sustainability Program (Program Keberlanjutan)

Selain pemberdayaan manusia, banyak perusahaan yang mengembangkan sustainability program sebagai cara memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat dan lingkungan. Sustainability program (program keberlanjutan) adalah inisiatif atau strategi jangka panjang yang dijalankan oleh organisasi atau perusahaan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Tiga pilar utama dari Program Keberlanjutan adalah ;

  • Lingkungan (Planet): Upaya untuk meminimalkan jejak karbon, menghemat energi, mengelola limbah, dan melestarikan sumber daya alam.
  • Sosial (People): Fokus pada kesejahteraan karyawan, hak asasi manusia, serta kontribusi positif kepada masyarakat sekitar dan konsumen.
  • Ekonomi / Tata Kelola (Profit / Governance): Memastikan bisnis dapat terus tumbuh dan menghasilkan keuntungan finansial secara etis, transparan, serta mematuhi hukum yang berlaku.

Dalam hal pelestarian lingkungan, banyak lembaga keuangan (perbankan) mulai menerapkan kebijaksanaan green financing (pembiayaan hijau).  Pembiayaan hijau adalah penyaluran dana dan investasi dari lembaga keuangan atau pemerintah untuk mendukung proyek berkelanjutan yang memberikan dampak positif pada lingkungan, seperti energi terbarukan, bangunan ramah lingkungan (green building), dan kendaraan listrik.

Saat ini, berbagai institusi perbankan di Indonesia telah mengadopsi skema pendanaan ini, memberikan kemudahan bagi nasabah ritel, korporasi, hingga pelaku UMKM.

Bank Indonesia (BI) menyediakan insentif berupa pelonggaran rasio Loan to Value (LTV) hingga 100% untuk pembiayaan properti berwawasan lingkungan (green building). Bank Central Asia (Tbk) mencatatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan BCA mencapai Rp258 triliun per Maret 2026, menyasar sektor-sektor transisi energi rendah karbon. Bank Syariah Indonesia (BSI) memiliki portofolio berkelanjutan sebesar Rp77,06 triliun, yang mencakup pembiayaan untuk UMKM, kendaraan ramah lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam. Bank BTN menyediakan program pembiayaan rumah rendah emisi dan menggandeng mitra pengembang yang menerapkan praktik ramah lingkungan.

Melalui instrumen seperti Green Bond (obligasi hijau) dan pinjaman berwawasan lingkungan, pembiayaan hijau bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang sekaligus meminimalkan kerusakan lingkungan.

Poppy Ismalina, M.Ec.Dev., Ph.D.

“Obligasi hijau atau green bond adalah pembiayaan yang secara legal diatur di dalam Peraturan OJK atau POJK Nomor 60/POJK/207,” terang  Poppy Ismalina, M.Ec.Dev., Ph.D. Beliau  adalah seorang Associate Professor di Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB UGM. “Perbankan yang melaksanakan obligasi hijau dan pembiayaan proyek berkelanjutan berwawasan lingkungan, wajib kita dukung. Saya melihat Maybank cukup bagus dari sisi pembiayaan hijau yang diterapkan pada proyek berkelanjutan.”

Sebagai seorang dosen dan peneliti di masalah ekonomi, Poppy Ismalina banyak melakukan riset terapan terhadap perubahan iklim, mekanisme penetapan Harga Karbon (Carbon Tax, Emission Trading), keuangan berkelanjutan (sustainable finance), pemberdayaan UKM Hijau, hingga pemberdayaan perempuan.

“Selain persoalan obligasi hijau, kita juga wajib melaksanakan peraturan pajak hijau. Pajak hijau (green tax) adalah instrumen kebijakan fiskal yang membebani aktivitas atau produk yang merusak lingkungan serta memberikan insentif bagi praktik ramah lingkungan. Tujuannya adalah menekan emisi karbon, mengurangi polusi, dan mendorong transisi energi menuju target Net Zero Emission,” jelas Poppy Ismalina saat diwawancara.

Totok Daryanto, Anggota DPR RI Komisi XII – nomor 3 dari kanan

Sementara, Totok Daryanto, anggota DPR RI komisi XII memberikan pandangan legislatif terhadap kebijaksanaan terhadap pembiayaan hijau. “DPR mendukung agar pembiayaan hijau tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar, tetapi juga dapat menjangkau pemerintah daerah, UMKM hijau, industri nasional, hingga masyarakat yang mengembangkan usaha ramah lingkungan. Green Financing bukan sekadar mencari dana, tetapi merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi sekaligus keberlanjutan lingkungan,” jelas Totok dalam penjelasan tertulis saat wawancara.

“Untuk Green Financing sendiri belum terdapat satu Undang-Undang khusus yang secara komprehensif mengatur seluruh aspek pembiayaan hijau. Namun berbagai dasar hukumnya sudah tersedia dalam beberapa regulasi sektoral, antara lain mengenai perlindungan lingkungan hidup, sektor jasa keuangan, pasar modal, energi, hingga Nilai Ekonomi Karbon. Dengan demikian, kerangka regulasinya sudah mulai terbentuk, meskipun masih tersebar dalam beberapa peraturan. Menurut saya, tantangan Indonesia saat ini bukan hanya menyusun regulasi baru, tetapi memastikan implementasi yang konsisten, kepastian hukum bagi investor, tata kelola yang transparan, mekanisme pengukuran emisi yang kredibel, serta kesiapan sumber daya manusia,” jelas Totok saat menjelaskan regulasi pembiayaan hijau.

Aturan utama yang mendasari ekosistem green financing (pembiayaan hijau) di Indonesia tertuang dalam UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), didukung oleh pedoman teknis seperti POJK No. 51/POJK.03/2017 dan POJK No. 60/POJK.04/2017. Saat ini, pemerintah dan DPR juga sedang mengebut pembahasan RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Rancangan undang-undang ini betujuan untuk memfasilitasi pusat keuangan global yang proaktif terhadap pendanaan sektor riil hijau dan strategis, meski pengaturannya masih dalam tahap pembahasan intensif.

Info Grafis Sustainability Report Maybank Indonesia 2025

Pembiayaan Hijau dan Berkelanjutan Maybank

Pada 30 Juni 2026, Maybank Indonesia menggelar Sustainable Finance Forum 2026. Forum ini merupakan platform strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan, mitra bisnis, regulator, dan pemimpin industri untuk mendorong agenda keuangan berkelanjutan di Indonesia. Mengusung tema “Navigating Transition for Industry: From Policy Signals to Market Action”, forum ini menyoroti peran penting keuangan berkelanjutan dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon, memperkuat ketahanan ekonomi, serta menciptakan nilai jangka panjang.

Melalui diskusi tingkat eksekutif, pembahasan prospek investasi, dan berbagai sesi praktik bagi pelaku industri, forum ini bertujuan menjembatani kebijakan iklim dan implementasi di dunia usaha, sekaligus mendorong kolaborasi, inovasi, serta strategi transisi yang konkret dan implementatif. Forum ini juga menegaskan komitmen Maybank Indonesia terhadap praktik keuangan yang berkelanjutan dan berbasis nilai melalui pengenalan berbagai solusi keuangan inovatif yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Beberapa capaian Maybank Indonesia dalam meningkatkan porsi pembiayaan hijau dan inisiatif keuangan berkelanjutan setiap tahunnya secara teratur dituangkan pada Sustainability Report. Berikut adalah beberapa perkembangan dan inisiatif utama yang dijalankan (menurut data yang diambil dari Sustainability Report Maybank Indonesia 2025).

  • Penyaluran Dana: Maybank Indonesia sukses menyalurkan pembiayaan hijau sekitar Rp8,2 triliun, meningkat dari target yang sebelumnya dipatok pada Rp3 triliun.
  • Investasi Syariah (SRIA): Maybank memperkenalkan instrumen Sustainable Shariah Restricted Investment Account (SRIA) yang memungkinkan nasabah untuk berinvestasi sesuai prinsip syariah sambil turut mendanai proyek-proyek hijau.
  • Komitmen Grup: Secara regional, Maybank Group menargetkan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebesar 73 miliar dolar AS hingga tahun 2030, melanjutkan realisasi pendanaan yang mencapai puluhan miliar dolar di tahun-tahun sebelumnya.

Di Maybank Indonesia, keberlanjutan tidak diposisikan sebagai sekadar program atau kampanye sesaat, melainkan sebagai nilai yang melekat pada DNA perusahaan melalui misi “Humanising Financial Services”. Bagi Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank Indonesia, prinsip ini diterjemahkan ke dalam strategi jangka panjang, tata kelola yang kuat, serta keputusan bisnis yang mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan.

Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank Indonesia

“Sustainability Report Maybank Indonesia adalah peta komprehensif untuk mengukur dan mengelola dampak operasional terhadap ekonomi, lingkungan, dan sosial. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan saat ini, sedangkan sustainability report berguna untuk keberlanjutan masa depan anak dan cucu kita,” jelas Maria di acara Maybank Journalist Fellowship, Juni 2026.

Pembiayaan hijau Maybank merupakan komitmen pendanaan untuk proyek berkelanjutan. Untuk segmen korporasi dan institusi, Maybank menyediakan fasilitas kredit dan pembiayaan syariah bagi sektor-sektor berwawasan lingkungan seperti energi terbarukan dan efisiensi energi. Bagi nasabah ritel, Maybank menawarkan instrumen investasi seperti Sustainable Shariah Restricted Investment Account (SRIA).

Maybank Indonesia terus meningkatkan porsi green financing dan inisiatif keuangan berkelanjutan setiap tahunnya. Berikut adalah beberapa perkembangan dan inisiatif utama yang dijalankan:

  • Penyaluran Dana: Maybank Indonesia sukses menyalurkan pembiayaan hijau sekitar Rp8,2 triliun, meningkat dari target yang sebelumnya dipatok pada Rp3 triliun.
  • Investasi Syariah (SRIA): Maybank memperkenalkan instrumen Sustainable Shariah Restricted Investment Account (SRIA) yang memungkinkan nasabah untuk berinvestasi sesuai prinsip syariah sambil turut mendanai proyek-proyek hijau.
  • Komitmen Grup: Secara regional, Maybank Group menargetkan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebesar 73 miliar dolar AS hingga tahun 2030, melanjutkan realisasi pendanaan yang mencapai puluhan miliar dolar di tahun-tahun sebelumnya
Pabrik VinFast, Subang Jawa Barat – Foto ; PT Vinfast Automobile Indonesia Tbk.

Salah satu pencapaian yang menarik pada 2025, PT Bank Maybank Indonesia Tbk menyatakan, mendukung pembangunan pabrik mobil listrik VinFast di Indonesia melalui pembiayaan berkelanjutan. PT Vinfast Automobile Indonesia adalah perusahaan otomotif asal Vietnam yang memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai. Sebagai bagian dari konglomerasi Vingroup, perusahaan ini telah meresmikan pabrik pertamanya di Indonesia yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.

Direktur Global Banking Maybank Indonesia, Ricky Antariksa, menyebut hal itu dilakukan sejalan dengan komitmen Indonesia mencapai net zero pada 2060. “Pembiayaan terhadap proyek VinFast ini adalah bagian dari komitmen kami untuk terus mendukung sektor transportasi bersih, dan rendah emisi karbon yang memiliki dampak positif jangka panjang bagi Indonesia,” ungkap Ricky dalam keterangannya, Rabu (14/5/2025). Menurut dia, Maybank Indonesia menyediakan term loan sebesar 20 juta dollar AS yang diharapkan akan mendorong pertumbuhan proyek pembangunan pabrik mobil listrik VinFast.

“Langkah Maybank Indonesia dalam membiayai pabrik mobil listrik termasuk program keuangan hijau dan patut diapresiasi,” ujar Poppy Ismalina saat memberikan pendapat tentang Maybank. “Seharusnya, lembaga keuangan ataupun institusi apapun yang melakukan pembiayaan berkelanjutan mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Bisa dari keringanan pajak, kemudahan perijinan dan perlindungan hukum terhadap sektor yang dibiayai,” tutup Poppy di ujung wawancara.

Kesimpulan

Maybank Indonesia menunjukkan implementasi pembiayaan hijau dan berkelanjutan yang semakin matang melalui integrasi prinsip ESG ke dalam strategi bisnis, pengembangan produk berbasis Sustainable Product Framework dan Transition Finance Framework, serta penerapan manajemen risiko iklim. Pendekatan ini tidak hanya mendukung kepatuhan terhadap regulasi OJK dan standar internasional, tetapi juga memperkuat posisi Maybank sebagai salah satu institusi keuangan yang berkontribusi pada transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia. Walaupun masih menghadapi tantangan seperti biaya investasi dan kesiapan proyek hijau, pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan menunjukkan bahwa model bisnis berbasis ESG berpotensi menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang bagi industri perbankan.

SON

Exit mobile version